Shenny Fierdha
SURABAYA, Jawa Timur
Rachmat Harjono Tengadi, 55 tahun, masih ingat jelas sedang berdiri di jalan raya depan Gereja Diponegoro, Surabaya, Jawa Timur, ketika dia melihat tiga wanita berpakaian gamis dan cadar gelap berjalan cepat, memaksa masuk ke dalam gereja.
Pagi itu, Minggu, 13 Mei 2018, ibadah pertama sudah selesai. Sementara ibadah kedua seharusnya dimulai pukul 08.00 WIB. Yesaya, salah satu penjaga keamanan gereja, berlari mendekati ketiga wanita tersebut ketika tiba-tiba bom yang dipasang ke tubuh ketiganya meledak. Belakangan, mereka diketahui sebagai ibu dan dua anaknya.
Fadhila Sari, 12 tahun, dan Famela Rizqita, 9 tahun, meledak lebih dulu. Salah satu dari mereka terpental ke sisi kanan lahan parkir yang berukuran sekitar 8x6 meter, sementara satu anak lainnya terlempar ke depan pos jaga di sebelah kiri tempat parkir.
"Anaknya yang paling kecil sempat hidup selama beberapa saat, hanya sebentar. Cadarnya tersingkap. Tangan kirinya terangkat, seolah meminta tolong," jelas Rachmat.
Dia dan para saksi mata lainnya hendak menolong namun urung karena melihat asap mengepul dari balik punggung si anak, takut masih ada bom lain yang belum meledak.
Tak lama, si ibu -- Puji Kuswati, 43 tahun -- meledak. Tubuhnya sempat terlontar ke dekat teras gereja dan menurut Rachmat, "Darah serta potongan dagingnya melumuri bangku di sebelah kiri lahan parkir. Dia langsung tewas di tempat. Usus ketiga pelaku terburai."
Selang beberapa detik sesudah ledakan, Rachmat merasakan nyeri di dada kiri atasnya.
"Rasanya bengkak, panas. Saya pegang, dan rupanya saya berdarah," ucap Rachmat sambil menunjukkan bekas lukanya yang merah seukuran seruas jari akibat terkena serpihan bom.
Dari ledakan itu tujuh orang luka-luka, termasuk Rachmat. Korban tewas hanya ketiga pelaku yang menjemput ajal di area parkir depan gereja. Sempat memasuki bangunan gereja pun tidak.
Jemaah yang saat itu masih berada di dalam gereja panik dan berhamburan keluar, berpikir ada trafo listrik meledak.
Saat sudah sampai di tempat parkir dan mendapati tiga jenazah hancur bergelimpangan, barulah mereka sadar rupanya itu bom. Beberapa menit kemudian, polisi tiba.
Semua sesi ibadah hari itu dibatalkan.

Ulah sekeluarga
Sekitar 3,4 kilometer dari Gereja Diponegoro, nasib Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan lebih memilukan. Sepuluh orang kehilangan nyawanya akibat bom mobil yang diledakkan Dita Oeprianto, 47 tahun.
Dita belakangan diketahui sebagai suami Puji yang meledakkan diri di Gereja Diponegoro.
Yonathan Biantoro Wahono, salah satu pendeta GPPS Jemaat Sawahan, ingat bahwa sekitar pukul 08.00 WIB dia sedang berdiri di podium menghadapi ratusan jemaah, hendak mengakhiri kebaktian.
Di luar, Dita, dengan mobil yang sudah dilengkapi bom, melaju kencang dan menabrak pagar gereja beserta tiga orang lainnya.
"Sesaat kemudian, api merah merasuk ruangan gereja. Asap hitam pekat mengubah warna tembok gereja menjadi hitam legam, seperti dipiloks," beber Yonathan.
Kursi-kursi beterbangan. Kaca-kaca jendela dan kanopi gereja pecah. Kap mobil Dita terlepas dan terlempar ke dekat salib besar yang berada di puncak gereja, di lantai lima.
Yonathan sempat menduga itu bom namun dia hanya menyimpan dugaannya dalam hati. Dengan suara tenang dia menginstruksikan para jemaah maju ke podium dan mengarahkan mereka menuju lima pintu keluar untuk evakuasi. Dia melarang jemaah yang berada di lantai dua turun dengan lift, harus dengan tangga.
Dia menduga bom sebab sebelumnya beredar kabar di aplikasi pesan instan WhatsApp bahwa ada dua gereja yang baru saja dibom beberapa saat lalu. Dugaannya ini terbukti ketika polisi mulai berdatangan ke lokasi.
"Saat mendapat kabar teror bom di WhatsApp, polisi sudah meminta saya menghentikan kebaktian. Baru mau saya tutup kebaktiannya, pengeboman terjadi. Gereja ini yang dibom terakhir. Kami tidak menyangka," ungkap Yonathan, sedih.
Di antara sepuluh korban tewas di GPPS Jemaat Sawahan, ada seorang tukang parkir dan satpam gereja beragama Muslim, dan seorang pengendara motor yang tengah melintas di jalan raya depan gereja.
Di pagi yang sama, serangan bom juga terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela. Pelaku pemboman adalah dua anak Dita dan Puji yang lain, Yusuf Fadhil, 18 tahun, dan Firman Halim, 16 tahun. Mereka berboncengan dengan motor yang dipasangi bom dan menabrakkan diri ke gereja.
Aksi bom bunuh diri sekeluarga ini menewaskan setidaknya 28 orang orang, termasuk mereka berenam.
‘Berikan kasih kepada mereka’
Seminggu setelah ledakan, Gereja Diponegoro sudah menggelar ibadah seperti biasa.
Jumat, 18 Mei 2018, lima hari pascabom, gereja mengadakan kebaktian lintas agama yang ramai dihadiri oleh tokoh agama dan warga dari keyakinan yang berbeda.
"Ulama [Islam], Buddha, Konghucu, bahkan aliran kepercayaan, semua datang ke sini. Ada sekitar 800-1000 orang dari berbagai agama yang datang, berdoa bersama. Kita semua menangis, kita bisa rukun bersama," kenang Rachmat.
Walau begitu, Rachmat mengaku jumlah jemaah menurun sesudah peristiwa kejam itu. Banyak yang takut ke gereja karena khawatir akan adanya bom susulan.
"Penurunannya tidak signifikan, hanya pada pekan pertama dan kedua sesudah kejadian. Tapi kita kemudian memberikan sesi trauma healing [pemulihan trauma]. Setelah itu, situasi kembali normal," tutur Rachmat.
Lima orang psikolog dari Jakarta dan Surabaya memberikan bantuan psikologis kepada para jemaah selama lima minggu sejak insiden.
Memang suasana sekarang sudah aman, tapi gereja tidak mau lengah. Kini Gereja Diponegoro hanya membuka satu pintu untuk keluar dan masuk.
Sebelum kejadian, gereja hanya menyiagakan dua orang polisi untuk mengamankan gereja dan sekitarnya. Pascateror, barulah diterjunkan sekitar 15 orang dari berbagai elemen seperti kepolisian, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Nadhlatul Ulama (NU), organisasi persilatan, sampai fans sepakbola "Bonek" untuk menjaga gereja. Ke-15 orang ini juga patroli keliling wilayah sekitar gereja.
Meski kesucian gerejanya ternoda teror, namun Rachmat justru simpatik kepada orang-orang radikal.
"Kasihan. Mereka tersesat karena ajakan dan ajaran agama yang salah. Semua agama punya kasih terhadap semua. Kita harus memberikan kasih kepada mereka agar kembali ke jalan yang benar," imbau Rachmat.

Ikuti rencana terbaik Tuhan
Pemberitaan tentang peristiwa pemboman di Surabaya ini mungkin cepat mereda, tapi trauma yang dirasakan mereka yang berada di lokasi kejadian butuh waktu lebih lama untuk disembuhkan.
Salah seorang korban luka, Yonathan bercerita, adalah bocah perempuan berusia enam tahun bernama Raquel. Akibat ledakan bom, Raquel mengalami kesulitan pendengaran di salah satu telinganya. Satu telinga lainnya justru semakin sensitif, sampai-sampai suara televisi di rumah Raquel harus dipasang di volume terkecil agar tidak menyakiti pendengarannya.
Tak hanya fisik, psikis Raquel pun terluka. Dia trauma dan sempat enggan ke gereja lagi karena takut ada bom lagi.
"Kami lalu membentuk tim trauma healing yang berkeliling ke rumah-rumah jemaah yang terluka dan ke rumah sakit untuk berkomunikasi dengan mereka, memberikan penguatan rohani. Kami punya psikolog Kristen, dan ada juga psikolog sosial yang datang dari Universitas Gajah Mada yang khusus menangani trauma bencana," terang Yonathan.
Trauma healing ini masih berlangsung sampai sekarang.
Untuk jemaah anak, tim mengajak anak bermain dan mewarnai sambil memberikan ayat suci yang menguatkan dan membacakan cerita Alkitab.
"Saya pesan kepada tim trauma healing agar tidak mengingatkan jemaah terhadap peristiwa bom. Tim juga tidak boleh memakai istilah yang berkaitan dengan teror seperti 'korban'. Kata 'korban' kita ganti dengan 'penyintas'," jelas Yonathan.
Setelah diberikan trauma healing berkali-kali, Raquel baru mau kembali ikut sekolah Minggu tiga pekan belakangan ini.
Korban luka lain, kisah Yonathan, adalah jemaah wanita bernama Feni Suryawati, 34 tahun. Feni masih dirawat di rumah sakit dan sudah dioperasi 16 kali untuk mengobati luka bakarnya yang mencapai 60 persen.
"Dana berobat ditanggung oleh Pemerintah Kota Surabaya selama pasien belum keluar rumah sakit. Kalau sudah keluar rumah sakit, mau kontrol, itu biaya ditanggung sendiri. Untuk yang meninggal, biaya persemayaman, biaya pemakaman, bahkan bus untuk rombongan pelayat semua disediakan oleh Pemerintah Kota Surabaya," ujar Yonathan.
Pascabom, dia berkhotbah kepada jemaah, baik yang luka maupun tidak, bahwa jika Tuhan mengizinkan suatu hal terjadi, maka tetap terjadi.
"Tuhan itu baik, rencana-Nya selalu baik karena Dia punya pikiran yang sempurna. Dengan peristiwa ini, kita harus lebih meningkatkan kerohanian dan lebih membina kesatuan sesama manusia," imbau Yonathan.
Dia berpesan agar jemaah memberikan kasih dan pengampunan kepada Dita sekeluarga, termasuk kepada pengikut ajaran radikal lainnya di luar sana supaya mereka semua bertobat.
"Sebab yang kita benci adalah perbuatannya, bukan orangnya. Doakan agar mereka diselamatkan Tuhan," pesan Dita.
Perkuat keamanan
Sama seperti Gereja Diponegoro, GPPS Jemaat Sawahan juga memperketat keamanan.
Sambil menunggu janji Dinas Sosial Surabaya yang akan memberikan dana renovasi, jamaah menyumbang untuk perbaikan gereja yang luluh lantak.
Sebuah pembatas semen dengan keramik sebesar kira-kira 4x1 meter dengan tebal setengah meter dipasang di area parkir.
Pintu masuk bangunan gereja dimundurkan beberapa meter untuk ruang tunggu bagi para jemaah yang menanti kebaktian berikutnya.
"Karena biasanya jemaah menunggu di luar. Yang menjadi korban [luka dan tewas] ialah mereka yang saat itu menunggu di luar," kata Yonathan.
Personel keamanan pun diperbanyak. Dulu, hanya ada 10-15 personel polisi dan TNI yang mengamankan gereja. Sejak tragedi itu, ada sekitar 50 personel gabungan yang bersiaga.
Meski tidak menggelar doa lintas agama seperti Gereja Diponegoro, namun jajaran GPPS Jemaat Sawahan mengadakan pernyataan bersama antaragama.
"Yang terlibat ialah tokoh NU, Badan Musyawarah Antargereja, dua gereja lain yang dibom, dan banyak lagi. Dalam pernyataan bersama, kami menyatakan bahwa kami tidak terpengaruh. Kami tetap bersatu. Teror ini tidak akan mendisintegrasi bangsa," tegas Yonathan.
news_share_descriptionsubscription_contact



