Sinan Uslu
28 Januari 2018•Update: 29 Januari 2018
Sinan Uslu
MOGADISHU
Siswa-siswa Sekolah Pertanian di Somalia bercocok tanam dengan menggunakan berbagai produk pertanian untuk pertama kalinya. Sekolah tersebut didirikan oleh sebuah lembaga pendidikan yang berkantor pusat di Turki.
Beragam jenis melon, timun, terong, dan tomat berhasil dibudidayakan untuk pertama kalinya selain tanaman untuk kebutuhan industri seperti gandum, kedelai, dan jagung.
Proyek Sekolah Pertanian di Somalia dipraktekkan pada 2012 oleh IHH Yayasan Bantuan Kemanusiaan bekerja sama dengan Badan Kerja Sama dan Koordinasi Turki (TIKA).
Dalam lingkup proyek tersebut, TIKA juga membuat rumah kaca di kampus pada 2016 untuk mengajarkan teknik bertani modern.
TIKA juga menyediakan alat bertani seperti traktor, mesin pencangkul, mesin penanam bibit, dan juga mesin silase, kata TIKA.
Selama pelatihan, siswa mendapatkan materi bertani praktis terkait dengan pembibitan, irigasi, pencangkulan, penyemprotan, panen, hingga pembibitan kembali.
Sampai saat ini, sekitar 500 siswa telah lulus pelatihan.
Somalia tidak punya budaya bertani
Somalia tidak memiliki budaya bertani yang memadai, kata Koordinator TIKA di Somalia Galip Yilmaz. Dia juga mengungkapkan bahwa sekolah memberikan pendidikan gratis ini kepada 180 siswa.
Insinyur pertanian ini juga mengatakan bahwa Somalia tidak bisa memanfaatkan lahan secara efisien sampai saat ini.
Padahal, kata Yilmaz, lahan Somalia memiliki potensi pertanian untuk semua kondisi geografis dan bisa panen berbagai produk tani sebanyak tiga sampai empat kali setahun.
Adapun proyek pertanian baru TIKA di Somalia yakni "Proyek Perkembangan Pertanian Shabelle Basin" akan dipraktikkan tahun ini.