Hayati Nupus
JAKARTA
Jika sedang berdiri tegak, tak ada yang tampak berbeda pada tubuh Agus Fitriadi, 32 tahun. Berambut lurus pendek, kedua tangannya lengkap dengan kaki berbalut sepatu, wajahnya murah senyum.
Namun jika sedang duduk di kursi roda, tampak bahwa kaki kanannya hanya bersisa sekepalan di bawah lutut. Kaki yang lengkap mengenakan sepatu tadi rupanya kaki palsu, yang membantu Agus beraktivitas layaknya manusia lainnya.
Meski hanya dengan kaki palsu, Agus mengaku sanggup melakukan segalanya. Berjalan, naik motor, menyetir mobil, bahkan membetulkan atap.
“Semuanya saya sanggup, kecuali naik tangga, harus pelan-pelan,” kata Agus, Senin, kepada Anadolu Agency, sambil tersenyum.
Tak hanya itu, Agus rupanya juga seorang atlet tenis lapangan. Seperti yang ia lakukan Senin itu, dengan raket di tangan kanan, ia melempar bola tenis ke lawan. Kemudian memutar roda kursi, bergeser ke posisi samping, bermanuver menangkis tembakan lawan.

Sudah sejak pagi Agus bersama tiga partnernya sesama difabel: Ndaru Patmaputri, Erwin Subrata, dan Maryanta berlatih tenis lapangan di salah satu pusat pelatihan di Ciputat, Tangerang Selatan. Mereka tengah bersiap mengikuti turnamen Kemer Daima dan Kemer Turkuaz Open yang akan digelar di Turki beberapa hari mendatang.
Siang sudah menjelang, matahari sudah hampir persis di atas kepala. Meski berlatih sejak pagi, semangat keempatnya belum juga luntur.
Dunia runtuh
Dunia Agus serasa runtuh saat kecelakaan menimpanya pada 2000 lalu. Saat itu ia masih berusia 15 tahun, pelajar kelas 2 salah satu Sekolah Menengah Pertama di Jakarta. Agus remaja hendak pergi berlibur menggunakan kereta. Ia memanjat jendela kereta, hendak naik ke atas atap gerbong. Waktu itu kereta dalam kota Jakarta belum setertib sekarang. Penumpang bebas menaiki atap gerbong meski aliran listrik dan bahaya ketinggian mengancam.
Belum sampai 100 meter kereta berangkat dari Stasiun Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Agus terpeleset. Ia terjatuh saat kereta melaju kencang dan kakinya menghantam pinggiran rel dengan keras.
Agus mencoba berdiri, namun gagal. Dia hanya bisa pasrah ketika warga setempat memboyongnya ke rumah sakit.
Dokter mengatakan kaki kanan Agus remuk. Satu-satunya solusi, kata dokter kala itu, adalah amputasi.
Agus menolak, ia tak ingin kehilangan kakinya. Ia mencoba mencari solusi dengan mendatangi berbagai tempat pengobatan alternatif.
Hampir setahun menjalani pengobatan alternatif, Agus tak juga menuai hasil. Tulang kakinya malah bengkok, sakitnya makin menjadi. Menuruti saran dokter, Agus menjalani amputasi dan pulang dari rumah sakit hanya dengan satu kaki.

Merasa kondisi tubuhnya tak lagi sempurna, aktivitas Agus sehari-hari hanya berdiam diri di rumah. Emosinya tak terkontrol, ia kerap marah-marah. Ia juga tak melanjutkan sekolah.
“Saya sangat terpukul, merasa tak lagi punya masa depan karena ada yang tidak lengkap dari tubuh saya,” tutur Agus, mengingat peristiwa lama.
Jika sedang pergi ke tempat ramai, Agus jadi minder. Ia merasa orang-orang memperhatikan kakinya yang tampak aneh. Rasa minder itu menghinggapinya selama hampir empat tahun.
Menyabet beragam medali
Namun pada tahun keempat usai kecelakaan itu, secercah cahaya datang. Seorang atlet Pelatnas yang juga difabel bernama Kusnan Effendi yang tinggal tak jauh dari rumah Agus banyak memberi motivasi. Kusnan gigih mengajak Agus berlatih tenis bersama difabel lainnya di Gelanggang Olah Raga Fatmawati.
“Saya jadi sadar, ada banyak difabel lain seperti saya, bahkan lebih parah, dan mereka tetap bisa berprestasi,” ungkap Agus.
Meski mengaku sebelumnya tak pernah memegang raket tenis sama sekali, Agus malah bisa bermain dengan baik.
Pelatih tenis Charles Rampen membaca potensi itu. Pelatih legendaris itu lah yang kemudian mendampingi Agus berlatih dan mengantarkannya menjuarai beragam turnamen.
Setelah 14 tahun, Agus berhasil mencatat beragam prestasi. Di antaranya meraih dua perunggu pada Asean Paragames 2005 di Filipina, dua perunggu pada Asean Paragames 2007 di Thailand dan satu perak serta dua perunggu pada Asean Paragames 2009 di Malaysia.

Kini Agus telah menikah dengan Dera Maya Sofie, difabel yang bekerja di RSUP Fatmawati. Bersama sepasang putra-putri, keduanya kini memiliki sebuah rumah di Cipayung, Depok.
Pelatih atlet difabel Irfan Dwi Nurfianto mengatakan Agus memiliki semangat tinggi untuk mengubah hidupnya. Meski memiliki keterbatasan fisik, toh Agus sanggup membuktikan bahwa ia bisa mandiri, bahkan hidup mapan dari hasil keringat sendiri.
Irfan menekankan pentingnya dukungan orang sekitar bagi penyandang disabilitas. Sekaligus motivasi bahwa ada banyak kreatifitas yang bisa dilakukan seorang difabel.
“Kecelakaan bukan akhir. Masih banyak kesempatan untuk mengubah hidup lebih baik,” kata Irfan.