Muhammad Abdullah Azzam
02 Agustus 2018•Update: 02 Agustus 2018
Mustafa Melih Ahishali
ISTANBUL
Komandan Pasukan Pengawal Revolusi Iran Muhammad Ali Jafari pada Rabu mengatakan bahwa rakyat Iran tak akan mengizinkan pemimpin-pemimpin negaranya bertemu dengan Amerika Serikat (AS).
Menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bersedia bertemu dengan para pemimpin Iran tanpa prasyarat, Jafari mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis bahwa, "Rakyat Iran tidak akan mengizinkan (Iran) bertemu dengan setan besar (AS)."
Dalam sebuah pesan yang ditujukan kepada Trump ini, Jafari menyatakan bahwa Iran tak akan menggubris permintaan bertemu Trump, seperti yang pernah dilakukan oleh Korea Utara.
Jafari juga menekankan bahwa rakyat Iran dapat bertahan menghadapi sanksi AS.
Meski begitu, akademisi dan pengamat politik terkemuka di Iran Prof. Dr. Sadik Zibakelam berpendapat bahwa penolakan ajakan bertemu dari AS bukanlah kebijakan yang mengarah pada kepentingan rakyat Iran.
Zibakelam mengungkapkan, mayoritas rakyat tidak menerima penolakan bernegosiasi dengan AS itu.
"Seandainya parlemen Iran melakukan survei untuk menyerap aspirasi rakyat terkait pertemuan dengan AS, akan terungkap jelas berapa persen rakyat yang setuju dengan kebijakan pemerintah Teheran," ungkap Zibakelam.
Presiden Donald Trump pada Senin berkata bersedia bertemu dengan para pemimpin Iran tanpa prasyarat, saat Iran menghadapi konsekuensi dari keputusannya menarik AS dari persetujuan nuklir.
"Saya bersedia bertemu dengan Iran jika mereka mau," kata Trump kepada reporter saat melakukan konferensi pers bersama Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte di Gedung Putih, menekankan bahwa dia tak yakin Iran siap berbincang namun bersikeras dialog ini akan menguntungkan.
Sebelumnya pada Senin, kementerian luar negeri Iran menghapus kemungkinan pertemuan dengan Washington, berkata bahwa "tidak mungkin kami melakukan dialog dengan pemerintahan AS yang menetapkan kebijakan bermusuhan terhadap Iran".
Trump memicu kemarahan Iran pada Mei ketika secara sepihak menarik AS dari perjanjian nuklir 2015 yang ditandatangani oleh lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman bersama Iran. Perjanjian ini menandai Iran setuju adanya pembatasan dan penyelidikan program nuklir mereka dengan imbalan pengangkatan sanksi miliaran dolar.