Muhammad Abdullah Azzam
16 Maret 2021•Update: 22 Maret 2021
Mehmet Burak Karacaoglu, Ahmet Karaahmet
IDLIB
Serangan rezim Bashar al-Assad dan pendukungnya telah menimbulkan luka yang dalam pada jutaan warga sipil saat perang saudara Suriah yang menelan korban ratusan ribu nyawa sudah berlangsung selama 10 tahun.
Perang dimulai dengan aksi protes pada 15 Maret 2011, di provinsi barat daya Deraa, ketika sekelompok siswa menulis di dinding sekolah, "Giliranmu selanjutnya, dokter!" – berpacu pada karir awal pemimpin rezim Bashar al-Assad.
Ketika ribuan dan ribuan orang turun ke jalan menuntut reformasi di negara itu, demonstrasi segera menyebar ke provinsi lain di seluruh negeri.
Mencap para pengunjuk rasa yang menuntut perubahan sebagai "teroris”, rezim Assad memobilisasi tentara dan pasukan keamanannya untuk melindungi keberadaannya. Penggunaan kekuatan rezim menyebabkan demonstrasi publik yang damai berubah menjadi perang saudara.
Ratusan ribu warga sipil tewas dalam perang saudara, dan pejabat PBB telah mencatat terjadinya kejahatan perang seperti penggunaan senjata kimia, kelaparan, deportasi, blokade, penangkapan sewenang-wenang, dan penyiksaan.
Menurut Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR), 6,6 juta warga Suriah harus meninggalkan negara itu, yang sebelum tahun 2011 berpenduduk sekitar 22-23 juta.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), sementara 6,7 juta orang mengungsi di dalam negeri, setidaknya 13 juta warga sipil di Suriah membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Mohammed Khatib, 70, adalah salah satu warga sipil yang terpaksa mengungsi dari desa Maardibse di timur provinsi Idlib akibat serangan rezim Suriah dan pendukungnya.
Khatib, yang kehilangan enam anak dan dua menantunya dalam serangan rezim, kini dia mencari nafkah untuk cucunya dengan menjual mainan dan pakaian bekas.
“Rezim Assad melakukan serangan dengan jet tempur, roket, dan bom barel. Mereka menggunakan senjata yang dilarang secara internasional seperti bahan kimia dan gas klorin,” kata dia kepada Anadolu Agency.
Khatib melanjutkan, "Rezim Assad memperkosa wanita di penjara, menghancurkan rumah dan infrastruktur, serta membuat jutaan warga sipil mengungsi."
Zahida Muhaimid salah satu warga yang bermigrasi dari pedesaan Aleppo dan mengungsi di kamp pengungsi di Idlib.
Muhaimid mengatakan kondisi kehidupan di kamp pengungsian amat sulit dan tidak bisa memenuhi tuntutan anak-anaknya.
“Kami makan daging tahun lalu untuk terakhir kalinya. Bukan hanya kami tapi juga tetangga kami berada dalam situasi yang sama,” keluh dia.