Mohamad Misto, Selen Temizer
28 Juni 2018•Update: 28 Juni 2018
Mohamad Misto, Selen Temizer
DARAA/ANKARA
Sedikitnya 20 warga sipil tewas dalam serangan rezim Bashar al Assad dan pendukungnya ke kota Daraa di barat daya Suriah, menurut Pusat Berita Daraa, Kamis.
Di bawah perjanjian Astana, Kazakhstan, pada Mei 2017, Daraa merupakan salah satu wilayah yang dinyatakan sebagai zona de-eskalasi oleh negara penjaminnya Iran, Rusia dan Turki, dan dua bulan kemudian, perjanjian baru dicapai antara Amerika Serikat dan pemerintah Rusia yang menyatakan bahwa Daraa dan Quneitra masuk ke daerah perjanjian khusus.
AS dan Inggris, bekerja sama dengan tentara Yordania, memotong dukungan mereka untuk oposisi di sepanjang perbatasan segera setelah melakukan perjanjian dengan Rusia.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert, pada 27 Mei mengatakan bahwa Washington telah memperingatkan rezim Assad untuk tidak melakukan operasi di Daraa.
Pada tanggal 14 Juni, Nauert mengulangi peringatan AS dengan mengatakan: "Amerika akan mengambil tindakan yang diperlukan jika rezim melanggar gencatan senjata di wilayah tersebut."
Meski telah mendapatkan peringatan dari AS soal gencatan senjata, namun sejak 20 Juni kemarin rezim Assad dan pendukungnya Iran terus melancarkan serangan ke wilayah Daraa.
Pada hari sebelumnya, PBB mengeluarkan peringatan bahwa sebanyak 750ribu warga kota Daraa berada dalam bahaya dan 45ribu orang telah terusir dari tempat tinggalnya.