Md. Kamruzzaman
DHAKA, Bangladesh
Sebuah badai tiba-tiba menghancurkan sebagian bangunan di kamp-kamp pengungsi Rohingya di tenggara Bangladesh pada Senin, menurut penduduk setempat.
"Kami dalam masalah serius. Terutama para perempuan sangat menderita karena sebagian besar toilet benar-benar hancur," kata Ansar Ali, pemimpin Rohingya di kamp Kutupalang di distrik Bazar Cox.
Dia mengatakan badai itu juga menghantam kamp-kamp lain termasuk Balukhali dan Palangkhali dan menghancurkan gudang-gudang.
Ayesha Akter, seorang pengungsi yang tinggal di Modhur Chara, kamp Kutupalang, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa para pengungsi sekarang dipaksa untuk tinggal di bawah langit terbuka.
"Tolong segera bangun toilet kami. Kita terbiasa hidup di bawah langit terbuka tanpa tempat berlindung tetapi bagaimana kita bisa hidup tanpa toilet?," katanya.
Ziaul Haque dari kamp Kutupalang mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa musim badai baru saja dimulai.
"Jika kita menghadapi situasi seperti sekarang, apa yang akan terjadi di masa depan ketika badai besar atau topan akan menghantam kita?" ujar Haque.
Dia mendesak pemerintah Bangladesh dan badan-badan bantuan internasional untuk membangun tempat berlindung dari musim hujan yang akan datang, yang biasanya disertai badai besar, tornado dan angin topan.
"Bahkan timah tipis yang digunakan sebagai pagar dan atap di beberapa tenda juga rusak," kata seorang pengungsi, Osman Gani.
Namun, Komisaris Komisi Pemulihan dan Repatriasi Rohingya (RRRC) Mohammed Abul Kalam Azad mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dia tidak diberi informasi tentang bencana ini.
"Kami akan menyelidiki masalah ini Selasa pagi dan akan merekomendasikan kepada pihak berwenang terkait untuk memberikan bantuan mendesak," katanya.
Kelompok yang teraniaya
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
news_share_descriptionsubscription_contact

