WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Senin menyerukan presiden Rusia untuk menghadapi pengadilan kejahatan perang setelah bukti nyata kekejaman massal oleh pasukan Rusia muncul dari kota Bucha di Ukraina, dekat ibu kota Kyiv.
Biden menyebut apa yang ditemukan di Bucha, sebuah kota yang baru-baru ini ditinggalkan oleh pasukan Rusia, "keterlaluan."
Presiden Vladimir Putin "adalah penjahat perang" yang "harus bertanggung jawab," kata Biden kepada wartawan.
Biden mengungkapkan bahwa AS dan komunitas internasional harus mengumpulkan bukti tambahan untuk mendukung tuduhan kejahatan perang sebelum proses hukum apa pun.
"Orang ini brutal. Apa yang terjadi di Bucha keterlaluan, dan semua orang melihatnya," ungkap presiden AS.
Biden mengatakan dia yakin apa yang dia lihat tidak termasuk genosida, tetapi tetap merupakan kejahatan perang.
Dia lebih lanjut bersumpah untuk menjatuhkan sanksi tambahan pada Rusia.
Sedikitnya 410 mayat warga sipil ditemukan di kota Bucha pada Minggu, menurut jaksa agung Ukraina.
Rusia telah membantah bahwa pasukannya membunuh warga sipil saat menarik diri dari kota-kota dekat Kyiv.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah menyerukan penyelidikan independen atas pembunuhan massal, dan "pertanggungjawaban efektif" yang akan dihadapi.
Ukraina telah meminta organisasi internasional untuk mengirim ahli ke negara itu sesegera mungkin untuk mengumpulkan bukti kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan Rusia.
Pada Sabtu, Mikhail Podolyak, seorang penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, mengatakan mayat orang-orang dengan tangan terikat dan ditembak mati oleh pasukan Rusia "berbaring di jalan-jalan" di Bucha.
Setidaknya 1.430 warga sipil telah tewas di Ukraina dan 2.097 terluka, menurut perkiraan PBB, dan angka sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi.
Lebih dari 4,1 juta warga Ukraina juga telah melarikan diri ke negara lain, dengan jutaan lainnya mengungsi di dalam negeri, menurut badan pengungsi PBB.