02 Agustus 2017•Update: 03 Agustus 2017
Hader Glang
ZAMBOANGAN CITY
Pemerintahan Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Rabu mengecam pendahulunya karena mengatakan operasi anti-narkoba Duterte tidak menghasilkan apa-apa.
“Komentar seperti itu dari mantan pemimpin menyiratkan pandangan sinis yang timbul dari mereka yang bersikap oportunis dalam dunia politik,” kata Ernesto Abella, juru bicara Duterte, dalam sebuah pernyataan.
“Hasil yang dicapai kampanye anti-narkoba menunjukkan kesuksesannya.”
Mantan presiden Benigno Aquino III dikutip mengatakan pada media sehari sebelumnya bahwa pada 2015, tahun terakhirnya menjabat, statistik menunjukkan sebanyak 1,8 juta pengguna narkoba di Filipina – jumlah yang sama pada akhir 2016, setelah Duterte menjabat.
“Tampaknya tidak ada yang berubah,” kata Aquio.
Namun Abella membalasnya dengan data dan riset, mengatakan kampanye anti-narkoba Duterte membawa 1,3 juta penyelundup dan pengedar narkoba menyerahkan diri tanpa disuruh.
Bila dibandingkan, dalam tahun pertamanya pemerintahan Duterte menahan 96.703 penyelundup dan pengedar narkoba (Juni 2016-Juni 2017) dan pemerintahan Aquino menahan 77.810 orang yang terkait narkoba selama 6 tahun masa kepemimpinannya, jelas Abella.
Kampanye anti-narkoba yang digencarkan Duterte juga sudah merazia jumlah besar narkotika – 2.445 kilo sabu-sabu dibandingkan penyitaan 3.219 kilo sabu saat Aquino berkuasa, ia menambahkan.
Aquino juga menyerukan perlunya meninjau kasus terbaru di mana sebuah operasi anti-narkoba di kota Ozamiz menewaskan 15 orang termasuk Walikota Reynaldo Parojinog Sr.
“Pihak berwenang harus menyelidiki itu. Pada setiap kesempatan di mana terdapat korban jiwa… menurut konstitusi, pemerintah wajib melindungi setiap warga negara,” kata dia.