Umar İdris
05 Desember 2019•Update: 05 Desember 2019
Ahmet Gurhan Kartal dan Zehra Nur Duz
ANKARA / LONDON
Presiden Turki pada hari Rabu mengutuk mereka yang menggunakan kata 'Islam' sebagai kata sifat untuk menggambarkan terorisme.
"Islam adalah agama yang damai," kata Recep Tayyip Erdogan, dalam sebuah acara di London timur yang diselenggarakan oleh kepresidenan Partai AK Inggris di mana dia dan Ibu Negara Emine Erdogan bertemu dengan perwakilan masyarakat Turki setelah pertemuan puncak NATO di London.
Erdogan menggarisbawahi bahwa rasisme, diskriminasi, anti-Semitisme, dan permusuhan terhadap Islam baru-baru ini meningkat di Eropa. Erdogan mengatakan gerakan sayap kanan kebanyakan menargetkan Muslim dan komunitas Turki.
"Pemilihan Parlemen Eropa terakhir sekali lagi menunjukkan bahwa politik identitas menjadi semakin dominan di Eropa," katanya, menambahkan media dan beberapa politisi telah memperdalam prasangka ini dengan pernyataan tidak bertanggung jawab.
Erdogan juga bicara tentang perjuangan Turki melawan terorisme.
"Mereka yang berpikir bisa mendisiplinkan Turki dengan terorisme dan pemerasan, merasa malu setelah gagal mencapai target mereka."
Dia menambahkan bahwa Turki "independen dalam kebijakan luar negerinya" dan tidak meminta persetujuan operasi untuk keamanannya sendiri.
Turki tidak akan meninggalkan wilayah Mata Air Perdamaian di Suriah utara sampai daerah itu dibersihkan dari teroris, dia menggarisbawahi.
Turki meluncurkan Operasi Mata Air Perdamaian pada 9 Oktober untuk menghilangkan teroris YPG/PKK dari Suriah utara di sebelah timur Sungai Eufrat untuk mengamankan perbatasan Turki, membantu dalam proses kembali ke daerah mereka di Suriah secara aman dan memastikan integritas wilayah Suriah.
Di bawah dua kesepakatan terpisah dengan AS dan Rusia, Turki menghentikan operasi untuk memungkinkan penarikan teroris YPG / PKK dari zona aman Suriah yang direncanakan.
Ankara menginginkan agar teroris YPG / PKK menarik diri dari wilayah tersebut sehingga zona aman dapat dibuat untuk membuka jalan bagi pengembalian 2 juta pengungsi secara aman.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian hampir 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak dan bayi.
Erdogan juga menggarisbawahi bahwa Turki saat ini menampung lebih dari empat juta warga Suriah yang berlindung di dalam perbatasannya.
Suriah telah dikunci dalam perang saudara yang ganas sejak awal 2011 ketika rezim Bashar al-Assad menindak protes pro-demokrasi dengan keganasan yang tak terduga. Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah terbunuh dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal akibat konflik.
Dia juga mengkritik Uni Eropa karena gagal memenuhi janjinya untuk secara finansial mendukung Turki bagi para pengungsi yang ditempatinya.
Mengenai hubungan bilateral antara Turki dan AS, Erdogan mengatakan kerja sama yang mengakar kuat antara kedua negara terus berkembang dari hari ke hari dan semakin kuat dengan memperoleh dimensi baru.
Dia menekankan bahwa volume perdagangan bilateral antara Turki dan AS mencapai USD18,6 miliar pada 2018.