Meryem Goktas
22 Mei 2018•Update: 23 Mei 2018
Meryem Goktas
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Senin menyatakan tekad Turki untuk tidak menyerah pada Yerusalem.
"Kami bertekad untuk tidak menyerah pada hak-hak kami di Yerusalem. Kami tidak akan pernah meninggalkan kiblat pertama kami [arah yang didoakan umat Islam] kepada belas kasihan negara yang memakan darah, air mata dan pekerjaan selama beberapa dekade," kata Erdogan saat berbuka puasa dan makan malam dengan para duta besar di ibu kota Ankara.
"Kami akan melanjutkan perjuangan kami sampai Yerusalem menjadi rumah kedamaian, ketenangan dan martabat untuk ketiga agama monoteistik," katanya.
Tentang langkah Amerika Serikat untuk memindahkan kedutaannya ke Yerusalem, Erdogan mengatakan bahwa tangan AS "ditutupi dengan darah anak-anak Palestina".
Presiden AS Donald Trump memicu kecaman internasional Desember lalu ketika dia secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan bersumpah untuk merelokasi kedutaan besar Washington dari Tel Aviv ke Yerusalem
Kedutaan besar AS resmi direlokasi Senin pekan lalu dan memicu ribuan warga Palestina melakukan demonstrasi di dekat pagar keamanan yang memisahkan Gaza dari Israel.
Puluhan orang Palestina menjadi martir - dan ratusan lainnya terluka - ketika pasukan Israel menanggapi demonstrasi dengan senjata-senjata yang berat.
"Pemerintah Amerika tidak memiliki hak untuk berbicara tentang hak asasi manusia, demokrasi dan perdamaian lagi," tambahnya.
Mengacu pada ketegangan regional saat ini, Erdogan menunjukkan diplomasi dapat menjadi cara memecahkan krisis.
Perkara senjata nuklir
Bicara tentang energi nuklir, Erdogan mengatakan Turki berpendapat bahwa nuklir harus digunakan untuk tujuan damai.
"Ancaman utama terhadap negara dan wilayah kami adalah senjata nuklir," katanya.
Dia menyerukan untuk membersihkan seluruh dunia dari senjata nuklir.
"Mereka yang memiliki setidaknya 15 ribu hulu ledak nuklir sekarang mengancam dunia," imbuh Erdogan.
Berbicara pada acara yang sama, Perdana Menteri Binali Yildirim bersumpah akan melanjutkan dukungan Turki kepada orang-orang yang membutuhkan di seluruh dunia.
"Sudah waktunya untuk bertindak bersama melawan masalah global seperti terorisme, kebencian, ketidakadilan, migrasi, diskriminasi dan kelaparan; Turki telah mengadvokasi ini untuk waktu yang lama," katanya.
Mengenai serangan Israel di Gaza, Yildirim mengatakan "pembantaian terhadap orang-orang yang tidak berdaya dan tidak bersenjata adalah kekerasan yang kejam dan brutal".
"Keputusan pemerintah Amerika untuk memindahkan kedutaan ke Jerusalem adalah kesalahan besar dan itu memiliki andil besar dalam peningkatan ketegangan dari peristiwa-peristiwa ini [di Gaza]," tambahnya.
Berbicara untuk duta besar negara yang berbeda itu, Yildirim mengatakan sudah waktunya untuk mengambil sikap atas situasi di wilayah tersebut.
Israel tak diundang
Dalam sebuah pernyataan, pihak kepresidenan mengatakan para duta besar dari semua negara, kecuali Israel, diundang untuk berbuka puasa di markas Partai Keadilan dan Pembangunan, yang saat ini menjadi partai berkuasa di Turki.
Duta Besar Israel di Ankara Eitan Naeh meninggalkan Turki pada hari Rabu atas permintaan negara itu setelah kekerasan dan pembunuhan tanpa pandang bulu oleh tentara Israel di sepanjang pagar Gaza-Israel.
Senin lalu, setidaknya 65 orang Palestina menjadi martir oleh tembakan Israel selama protes di Gaza timur. Ribuan lainnya terluka.