Hasan Esen
22 Januari 2018•Update: 22 Januari 2018
Hasan Esen
BRUSSELS
Organisasi Teroris Fetullah (FETO) mendukung kelompok teror yang menghadapi Operasi Ranting Zaitun yang diluncurkan Turki guna menghapus adanya PKK/KCK/PYD-YPG dan Daesh di Afrin.
Para tersangka FETO, yang kabur ke luar negeri menunjukkan dukungan mereka lewat media sosial selama akhir pekan lalu. Mereka mengambil kesempatan situasi itu dan mengkritik operasi Turki yang memiliki tujuan menciptakan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki, mencegah dibukanya koridor teror.
Mantan representatif koran Today's Zaman di Ankara dan juga buron FETO Abdullah Bozkurt mengatakan operasi itu dilaksanakan untuk memprovokasi massa dan "memantik kefanatikan agama dan antusiasme nasional di negara ini."
Anggota lain kelompok teror Tuncay Opcin yang kabur ke AS juga menuduh bahwa bila Turki menjadi negara otoritarian "yang harus membayar mahal selalu adalah orang Kurdi".
Bulent Kenes, mantan pemimpin redaksi Today's Zaman, menuliskan opininya di sebuah situs terkait FETO bahwa Turki "mengisolir orang Kurdi di Anatolia ke Turki, dan di sisi lainnya menggunakan upaya pemberontakan Kurdi untuk kepentingan mereka sendiri".
Namun dia luput menyebutkan fakta adanya dukungan AS terhadap PYD/PKK walaupun sudah ditentang Turki. Dalam tulisannya itu, Kenes juga menggunakan tagar #AfrinSavasınaHayır yang artinya "Tolak perang Afrin".
Organisasi Teroris Fetullah (FETO) dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, melakukan upaya kudeta yang dikalahkan pada tanggal 15 Juli 2016. Kudeta itu menyebabkan 250 orang tewas dan hampir 2.200 orang terluka.
FETO juga diduga berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan pemerintahan melalui infiltrasi institusi-institusi Turki, khususnya militer, kepolisian, dan kejaksaan.
Pada Sabtu, Turki meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk menghapus keberadaan kelompok PKK/KCK/PYD-YPG dan Daesh dari Afrin.
Operasi itu digelar menurut kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB dan hak membela diri, namun dengan tetap menghormati kedaulatan Suriah.
Pihak militer Turki juga mengatakan hanya menargetkan teroris dan menempatkan "kepentingan penuh" agar tidak melukai warga sipil.
Sedangkan kelompok PYD/PKK yang berbasis di Suriah adalah bagian dari kelompok PKK, yang diakui sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa.