Muhammad Nazarudin Latief
01 Februari 2019•Update: 01 Februari 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Gubernur Bangkok, Kamis meminta bantuan untuk memerangi kabut asap yang menyelimuti ibukota, setelah penyebaran drone diragukan efektivitasnya oleh warga.
Bangkok diselimuti kabut pekat selama berminggu-minggu. Pihak berwenang telah menaburkan awan untuk memancing hujan, menyemprotkan air ke jalan layang untuk menangkap polutan mikro, bahkan mendesak orang untuk tidak membakar dupa menjelang Tahun Baru Imlek.
Pasukan militer juga telah diminta untuk memeriksa pabrik-pabrik di seluruh negeri.
Pada Kamis, drone menyebarkan air untuk membersihkan udara dari partikel mikroskopis berbahaya (PM2.5). Cara ini ditanggapi skeptis dan mendapat cemoohan dari pengguna media sosial Thailand.
Gubernur Bangkok Aswin Kwanmuang menambah rasa frustrasi dengan menyerukan "semua sektor" untuk menemukan solusi.
"Saya tidak tahu segalanya, jadi saya mengundang semua orang untuk membantu," katanya, Kamis, menanggapi pertanyaan dari wartawan tentang efektivitas drone.
"Jika kita tidak melakukan apa-apa, orang akan mengkritik kita karena tidak mengambil tindakan apa pun."
Dia meminta bantuan sehari setelah menyatakan Bangkok sebagai "daerah kontrol". Dia juga menutup ratusan sekolah sampai Jumat dan mengumumkan larangan mobil yang menggunakan diesel dan pembakaran apa pun di dalam kota.
Bagi warga yang melanggar aturan ini bisa dikenai hukuman penjara tiga bulan dan denda.
Pemimpin pemerintah Prayut Chan-O-Cha pada Rabu menyatakan untuk meninggalkan kendaraan bermotor dan memberikan kewenangan bagi tentara untuk "memeriksa" pabrik di 76 provinsi.
"Saya akan meminta tentara untuk pergi dan memeriksa setiap pabrik ... dan langsung melapor kepada saya," kata perdana menteri.
"Orang-orang mengeluh bahwa saya tidak melakukan ini, saya tidak melakukan itu, dan anak-anak batuk sampai darah keluar."
Polusi udara di Bangkok, sudah pada taraf memaksa pemerintah untuk mengambil “tindakan tegas", kata Koordinator Regional Lingkungan PBB untuk Bahan Kimia, Limbah, dan Kualitas udara Kakuko Nagatani-Yoshida.
Dia mengatakan solusi jangka pendek adalah dengan mematikan pabrik pencemar paling parah. Pabrik-pabrik harus “harus mengonversi ke teknologi yang lebih bersih dan pembakaran limbah secara terbuka harus dihentikan."
Pihak berwenang di Thailand mulai khawatir karena keluhan keluhan tentang kabut dan respon pemerintah mulai digunakan sebagai isu politik. Selain itu juga berdampak pada pariwisata selama musim liburan.