Meiramgul Kussainova
12 Januari 2022•Update: 13 Januari 2022
NUR-SULTAN
Hampir 10.000 orang telah ditahan oleh polisi di Kazakhstan dalam kerusuhan besar-besaran di seluruh negeri.
Setidaknya 9.900 telah ditahan pada 11 Januari, kata Kementerian Dalam Negeri.
Polisi menyita senjata, 25 pistol Makarov, rompi antipeluru dan peralatan lainnya.
Media lokal melaporkan kematian dua penjaga keamanan dan seorang perwira intelijen pada Selasa.
Kepala Departemen Kepolisian Provinsi Jambyl, Jenderal Janat Suleymanov, ditemukan tewas, lapor kantor berita Kazinform.
Selain itu, Kementerian Dalam Negeri mengkonfirmasi kematian Suleymanov dan penyelidikan sedang diluncurkan.
Kepala Polisi Provinsi Almaty, Tanat Nazaov, meninggal karena cedera kepala.
Sementara itu, Kolonel Azamat Ibrayev ditemukan tewas di halaman rumahnya di ibu kota negara Nur-Sultan, lapor Komite Keamanan Nasional Kazakhstan.
Setelah harga gas minyak cair (LPG) di Kazakhstan naik dua kali lipat pada 2 Januari, memicu protes, Presiden Kassym-Jomart Tokayev mengumumkan keadaan darurat di Almaty dan wilayah Mangystau sebelum memperluasnya secara nasional.
Setidaknya 164 orang, termasuk seorang gadis berusia 4 tahun, tewas selama protes selama seminggu.
Pemerintah mengundurkan diri setelah Tokayev menganggap mereka bertanggung jawab atas protes tersebut.
Tokayev kemudian meminta bantuan aliansi militer pimpinan Rusia, Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), yang mengirim pasukan untuk meredakan kerusuhan.
Protes mematikan telah digambarkan oleh Tokayev sebagai “upaya kudeta.”
Dia menuduh "teroris, termasuk pejuang asing" memainkan peran paling aktif dalam kerusuhan yang telah menyebabkan kematian 18 personel keamanan dan 26 pengunjuk rasa dalam seminggu terakhir.