Ekip
10 Desember 2017•Update: 11 Desember 2017
Cigdem Alyanak
ISTANBUL
Presiden Indonesia Joko Widodo dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, pada Sabtu melakukan percakapan via telepon untuk membahas keputusan AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Percakapan yang juga melibatkan presiden Nigeria Muhammadu Buhari ini, sebut sumber dari Kepresidenan Turki, fokus pada pentingnya menunjukkan pendirian yang sama untuk meyakinkan AS mengubah pendiriannya.
Para pemimpin negara berkata, aksi AS ini akan memberi pengaruh buruk pada kedamaian dan stabilitas di wilayah konflik tersebut.
Mereka juga berharap pertemuan luar biasa Organisasi Kerja sama Islam (OKI) yang akan dilakukan pada tanggal 13 Desember di Istanbul akan menghasilkan suara bulat menentang keputusan AS.
Di hari yang sama, Erdogan juga berbincang dengan presiden Prancis, Kazakhstan, Azerbaijan, dan Lebanon.
Pada Rabu, Presiden Donald Trump – bertentangan dengan kebijakan AS selama puluhan tahun – mengumumkan keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan besar Washington ke kota itu.
Perubahan dramatis ini memicu demonstrasi di wilayah pendudukan Palestina, Turki, Mesir, Yordania, Tunisia, Algeria, Irak, dan berbagai negara Muslim lain.
Yerusalem tetap menjadi pusat konflik Israel-Palestina, dengan Palestina yang mengharapkan Yerusalem Timur – sekarang diduduki oleh Israel – sebagai calon ibu kota negara Palestina kelak.