Rhany Chairunissa Rufinaldo
10 Agustus 2018•Update: 11 Agustus 2018
Muhammad Mussa
LONDON
Seratus wanita Muslim yang mengenakan niqab atau burqa telah menyurati Brandon Lewis, ketua Partai Konservatif, menuntut agar Boris Johnson dikeluarkan dari partai.
Sky News mengungkapkan, surat tersebut mengatakan bahwa permintaan maaf oleh mantan menteri luar negeri itu tidak akan cukup dan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan untuk mencegah orang lain di partai mengikuti jejaknya.
"Kami berbicara sebagai wanita mandiri yang mampu berbicara untuk diri kami sendiri dan membuat pilihan kami sendiri," kata penandatangan.
“Keputusan kami untuk mengenakan niqab atau burqa bukanlah hal yang mudah, terutama mengingat kebencian yang sering kami alami sehari-hari. Namun demikian, kami melakukannya karena kami percaya ini adalah sarana untuk lebih dekat dengan Tuhan,” tambahnya.
Para wanita ini juga menekankan bahwa "bertentangan dengan apa yang mungkin telah diberitahukan kepada Anda oleh media dan kolumnis yang mengaku tahu apa yang terbaik bagi kami, wanita Muslim tidak dipaksa untuk mengenakan niqab atau burqa, mereka juga tidak ditindas".
Surat itu juga mengatakan bahwa pilihan kata-kata Johnson yang berbau Islamophobia adalah disengaja dan "dibuat untuk mengobarkan ketegangan dengan cara yang mempermudah orang-orang fanatik untuk membenarkan kejahatan kebencian terhadap kami," menambahkan dukungan lebih lanjut kepada permintaan sesama konserfatif, Lord Sheik, agar Johnson kehilangan cambuk partainya, artinya dia tidak lagi mewakili partai.
Para wanita itu mengatakan bahwa meskipun hak mereka sebagai “warga yang setara” mungkin diperdebatkan di masyarakat, bahasa keji yang digunakan oleh Johnson memiliki konsekuensi yang kekal dan tidak akan pernah bisa diterima.
Surat itu menyebutkan kesediaan para wanita untuk berbicara dengan anggota parlemen untuk berbagi pengalaman mereka tentang bagaimana rasanya seorang wanita Muslim mengenakan niqab atau burqa dan menyanggah kebohongan tentang mereka yang telah menyebar.
Johnson dikecam setelah menulis opini di surat kabar, membandingkan wanita Muslim yang memakai niqab dengan perampok bank dan kotak surat.
Saat ini dia menghadapi penyelidikan oleh panel independen karena komentarnya melanggar kode etik partai Tory.
Tokoh-tokoh senior seperti Ketua Partai Konserfatif John Lewis dan Perdana Menteri Theresa May telah meminta Johnson untuk meminta maaf.
Sejumlah kelompok advokasi Muslim seperti Dewan Muslim Inggris juga telah menyerukan untuk menindak lebih tegas segala bentuk tindakan Islamophobia di Partai Konservatif.