Chandni
23 Maret 2018•Update: 24 Maret 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Inggris, Jerman dan Prancis sekali lagi mengungkapkan pandangan mereka mengenai Rusia yang diduga meracuni seorang mantan agen Rusia, Sergei Skripal, dan putrinya, kata pemerintah Inggris pada Kamis.
Pernyataan itu dirilis setelah Perdana Menteri Theresa May berunding dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel di sela-sela pertemuan Dewan Eropa di Brussel.
"Perdana Menteri memberikan perkembangan terbaru kepada Presiden dan Kanselir mengenai investigasi penggunaan gas saraf tingkat militer, yang diproduksi oleh Rusia," bunyi pernyataan resmi itu.
May juga dikabarkan mengatakan kepada pemimpin Jerman dan Prancis mengenai "ilmuwan-ilmuwan Inggris yang sudah mengidentifikasi bahwa zat kimia yang digunakan adalah sejenis gas saraf Novichok".
Selain itu, May juga "mengingatkan bahwa Rusia sebelumnya memproduksi zat tersebut; rekam jejak Rusia yang sering melakukan pembunuhan atas suruhan pemerintah; dan pendapat bahwa Rusia memandang pembelot sebagai target pembunuhan," lanjut pernyataan itu.
"Inggris, Jerman dan Prancis menekan bahwa Rusia lah yang merupakan otak pembunuhan tersebut, tidak ada penjelasan lain di luar itu," tambahnya.
Sementara itu, Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, menuangkan opininya lewat Twitter.
"#UECO setuju dengan pemerintah Inggris mengenai keterlibatan Rusia dalam #SeranganSalisbury dan tidak ada penjelasan lain," cuit Tusk pada Kamis.
Sebanyak 23 diplomat Rusia meninggalkan Inggris pada Rabu, yang menjadikannya insiden pengusiran diplomat asing terbesar dari Inggris sejak tahun 1970an.
Skripal dan putrinya berada dalam kondisi stabil namun kritis dan masih dirawat di rumah sakit, setelah ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah bangku umum.
Polisi Nick Bailey, yang juga terpapar gas saraf itu ketika berupaya menolong Skripal, dinyatakan pulih total pada Kamis.
Rusia tetap bersikeras tidak terlibat dalam insiden itu sama sekali, namun juga mengusir 23 diplomat Inggris sebagai aksi balasan. Mereka juga menuduh Inggris tidak memberikan sampel zat yang digunakan agar Rusia juga bila menyelidikinya.