Umar Idrıs
12 Februari 2020•Update: 13 Februari 2020
Michael Hernandez
WASHINGTON
Badan Intelijen Pusat AS (CIA) dan Intelijen Federal Jerman (BND) secara diam-diam memiliki perusahaan enskripsi Swiss, Crypto AG. Perusahaan itu digunakan oleh pemerintah AS dan Jerman untuk mengirim komunikasi terenkripsi selama beberapa dekade, menurut sebuah laporan yang diterbitkan Selasa.
Crypto AG digunakan oleh negara sekutu dan non sekutu bahkan musuh AS, sebanyak lebih dari 120 negara. Di antara kliennya adalah Iran, India, Pakistan, dan Vatikan.
Tak satu pun dari para klien itu mengetahui kepemilikan CIA-BND di dalam Crypto, menurut sejarah CIA dan surat dari badan intelijen Jerman yang diperoleh The Washington Post dan penyiar publik Jerman ZDF.
Kedua agensi intelijen itu dianggap mencurangi layanan enkripsi yang dijual oleh Crypto kepada para kliennya, karena komunikasi yang dikirim kepada klien pada akhirnya dapat dengan mudah diretas oleh CIA dan BND.
"Itu adalah kudeta intelijen abad ini," kata sebuah laporan CIA, seperti dikutip dari media.
"Pemerintah asing membayar banyak uang kepada AS dan Jerman Barat untuk hak istimewa agar komunikasi mereka yang paling rahasia dibaca oleh setidaknya dua (dan mungkin sebanyak lima atau enam) negara asing."
CIA dan Badan Keamanan Nasional AS (NSA), yang pada saat itu ditugaskan untuk memecahkan kode sandi, memiliki Crypto dalam kemitraan dengan BND sejak 1970, dan mengendalikan "hampir setiap operasi Crypto," menurut Washington Post.
BND sebenarnya pernah ingin meninggalkan operasi ini pada awal 1990-an karena khawatir plot itu akan terungkap, tetapi CIA kemudian membeli saham Jerman guna mempertahankan kendali atas Crypto hingga 2018, ketika perusahaan itu menjual sahamnya, kata seorang mantan pejabat intelijen secara anonim.
Pada saat itu, kata Post, nilai strategis Crypto telah berkurang dan enkripsi elektronik telah menjadi norma.
Sambil mempertahankan kepemilikan atas Crypto, agen-agen intelijen CIA dan BND menilai operasi mereka relatif sukses, sama suksesnya dengan bisnis yang menghasilkan jutaan dolar yang dihasilkan perusahaan.
Tapi kemitraan dua lembaga intelijen berbeda negara itu bukan tanpa gesekan. CIA dan BND berulang kali berselisih tentang serangkaian masalah seputar uang dan kontrol atas perusahaan, tetapi juga perselisihan lain seperti tentang etika.
BND, antara lain, sering merasa "terkejut" pada semangat CIA yang ditunjukkan ketika mengawasi sekutu-sekutu AS, menurut surat kabar itu.
Di antara sekutu yang dimata-matai oleh intelijen AS adalah anggota NATO seperti Turki, Yunani, Spanyol dan Italia, tulis Post.
Kemudian dua perusahaan baru membeli aset Crypto setelah dilikuidasi pada 2018, yakni CyOne Security dan Crypto International.
Kedua perusahaan pemilik Crypto itu kini membantah memiliki hubungan dengan badan intelijen AS maupun Jerman.
CyOne diyakini memiliki hubungan "lebih substansial" dengan Crypto AS, melalui chief executive officer (CEO) saat ini, yang memegang gelar itu selama dua dekade ketika Crypto masih dimiliki oleh CIA, kata Post.
Pada Selasa, pemerintah Swiss mengumumkan, mereka menyelidiki hubungan Crypto AG dengan CIA dan BND, dan pada awal bulan ini telah menangguhkan lisensi ekspor untuk Crypto International.
Tetapi Post mengatakan bahwa langkah-langkah pemerintah Swiss menimbulkan rasa "penasaran," mengingat dokumen-dokumen yang ada menunjukkan bahwa pejabat pemerintah Swiss telah mengetahui hubungan itu selama beberapa dekade dan melakukan "campur tangan atas kasus ini setelah mengetahui media akan mengekspos hubungan mereka."