EKIP
30 Desember 2021•Update: 04 Januari 2022
JENEWA
Varian Omicron yang bergerak cepat secara global dapat memicu “tsunami kasus Covid-19”, membuat sistem kesehatan hampir runtuh, melelahkan petugas kesehatan, dan mengganggu target menghentikan fase akut pandemi pada 2022, kata WHO pada Rabu.
“Saya sangat prihatin bahwa omicron menjadi lebih menular, beredar pada saat yang sama dengan delta, menyebabkan tsunami kasus,” kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Ghebreyesus di webinar.
Menyoroti efek virus pada manusia dan sistem kesehatan global di markas besar WHO di Jenewa, Ghebreyesus mengatakan, “Ini akan terus memberikan tekanan besar pada petugas kesehatan yang kelelahan dan sistem kesehatan di ambang kehancuran dan sekali lagi mengganggu kehidupan dan mata pencaharian.”
Ada 1,8 juta kematian yang tercatat pada 2020, dan 3,5 juta pada 2021, kata Tedros, menambahkan WHO tahu bahwa jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi dari itu.
Dia mengatakan penghitungan ini tidak menyebutkan jutaan orang yang berurusan dengan konsekuensi jangka panjang dari pandemi.
“Tetapi saya masih tetap optimis bahwa ini [2022] bisa menjadi tahun kita tidak hanya mengakhiri tahap akut pandemi, tetapi kita juga memetakan jalan menuju keamanan kesehatan yang lebih kuat,” ungkap kepala WHO.
Dia mendesak dunia untuk berbagi vaksin lebih cepat dan adil di bawah sistem COVAX yang bertujuan untuk kesetaraan vaksin secara global.
- Vaksin untuk kemanusiaan
“Kita harus mendukung negara-negara dalam pembuatan dan meluncurkan vaksinnya untuk kemanusiaan,” kata Tedros.
Dia memperingatkan bahwa virus akan terus berkembang dan mengancam sistem kesehatan global jika respons kolektif tidak ditingkatkan.
“Saat ini, delta dan omicron adalah ancaman kembar yang mendorong rekor kasus, yang lagi-lagi menyebabkan lonjakan rawat inap dan kematian.”
“Kita semua sakit dan lelah dari pandemi,” kata Tedros pada webinar terakhirnya tahun 2021.
Dia mengatakan pengembangan vaksin baru terbukti efektif dalam memeriksa infeksi dan kematian.
“Misinformasi dan disinformasi, sering disebarkan oleh sejumlah kecil orang, telah menjadi gangguan konstan, merusak sains dan kepercayaan pada alat kesehatan yang menyelamatkan jiwa,” tukas Tedros.