Rhany Chairunissa Rufinaldo
14 September 2018•Update: 14 September 2018
Sibel Ugurlu
ANKARA
Idlib telah menjadi "luka dalam" yang semakin berdarah setiap hari, pemimpin Partai Gerakan Nasionalis Turki (MHP) Devlet Bahceli mengatakan pada Kamis.
"Bashar al-Assad yang kejam dan Rusia meluncurkan operasi militer pada interval tertentu. Kemungkinan munculnya bentrokan berskala besar dan berdarah setiap saat adalah pelopor bagi perkembangan kekejaman di masa depan," kata Bahceli saat menghadiri upacara peletakan batu pertama di ibu kota Ankara.
Bahceli mengatakan, "Idlib telah menjadi luka dalam yang semakin berdarah dari hari ke hari dan berubah menjadi kelumpuhan."
Pemimpin partai oposisi ini mengatakan bahwa penangkapan Yusuf Nazik, tersangka kunci dari serangan Reyhanli 2013 di kota pelabuhan Suriah Latakia, mengungkapkan bahwa perencana serangan mematikan yang menewaskan 53 orang di Turki selatan itu adalah pemimpin Suriah, Bashar Al Assad.
Badan Intelijen Turki (MIT) pada Rabu membawa Nazik ke Turki dan memulai interogasi mengenai serangan mematikan Reyhanli.
Nazik (34), yang masuk dalam kategori biru pada daftar teroris yang dicari oleh Kementerian Dalam Negeri, mengaku dalam rekaman video yang diperoleh Anadolu Agency, dengan bantuan unit-unit intelijen Suriah, dia menyelidiki TKP sebelum serangan itu dan memindahkan bahan peledak dari Suriah ke Turki.
"Pengakuan ini telah menunjukkan bahwa kita tidak perlu banyak bicara. Kehadiran sidik jari Assad di Reyhanli telah memperlihatkan bagaimana tangan berdarah telah mengatur Suriah."
Bahceli juga memperingatkan orang-orang yang ia gambarkan sebagai "penulis naskah tingkat regional dan global" untuk hati-hati dalam melangkah, menambahkan bahwa Turki tidak akan membiarkan terjadinya kekacauan dan konflik di wilayah perbatasannya.
"Saya memperingatkan sekali lagi, negara-negara dan lingkaran yang menimbulkan kekacauan dan konflik di wilayah perbatasan nasional kami harus memahami bahwa Turki tidak akan mundur."
Bahceli menekankan bahwa Turki "tidak akan menyerahkan provinsi, tanah dan perbatasannya dan tidak akan menelantarkan warganya."
Terletak di dekat perbatasan Turki, Idlib adalah rumah bagi lebih dari 3 juta warga Suriah, banyak di antara mereka melarikan diri dari kota-kota lain setelah serangan oleh pasukan rezim.
Rezim Suriah baru-baru ini mengumumkan rencana untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran di daerah itu, yang telah lama dikendalikan oleh berbagai kelompok oposisi bersenjata.
PBB telah memperingatkan bahwa serangan semacam itu akan mengarah pada "bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21".