Astudestra Ajengrastrı
03 Juli 2018•Update: 04 Juli 2018
Elahe Salari dan Mustafa Melih Ahishali
ANKARA
Seorang anggota parlemen Iran memperingatkan krisis air yang semakin parah di Provinsi Khuzestan yang terletak di barat daya Iran bisa merubah menjadi masalah keamanan bila tidak segera diselesaikan.
Pernyataan ini muncul setelah sebanyak 230 orang keracunan akibat meminum air yang terpolusi di provinsi itu.
"Jika kelangkaan air terus berlanjut di Provinsi Khuzestan, ini akan berubah menjadi masalah keamanan," kata wakil dari Kota Ahvaz, Jawad Kazem Nasab, di depan parlemen di Teheran, menurut kantor berita semi-resmi Iran, ISNA, pada Senin.
"Temperatur di sana sekitar 55 derajad [Celcius], tidak ada air. Masalah keamanan mulai muncul di kota-kota Abadan dan Khorramshahr di Khuzestan, di mana tingkat pengangguran bertemu dengan pertumbuhan masyarakat urban dan kurangnya pekerjaan," kata Nasab.
Dia menambahkan, "Orang-orang di Khuzestan sudah cukup sabar menghadapi perang Irak-Iran (1980-1988). Namun mereka sudah tidak bisa lagi menghadapi keadaan tanpa ampun ini.
"Badai pasir yang mengeringkan semua alang-alang adalah salah satu masalah terbesar," ujar dia, menambahkan, "Namun masalah paling besar saat ini adalah tidak punya air minum. Kebanyakan air di Khuzestan mengandung garam tinggi."
Berbicara kepada Mizan Online, media online yang terafiliasi dengan lembaga peradilan Iran, jaksa wilayah Ramhormoz, Qasem Nejad, berkata 230 orang yang keracunan itu adalah warga di wilayahnya dan daerah Al-Fars.
Iran saat ini mengalami kekeringan karena kurangnya curah hujan. Masyarakat harus membeli air dari tengkulak karena air keran mengandung garam yang terlalu tinggi.
Baru-baru ini, aksi demo yang memprotes krisis air ini telah digelar di Kota Abadan dan Khorramshahr di Khuzestan.