13 September 2017•Update: 13 September 2017
Mutasim Billah
DHAKA, Bangladesh
Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNFPA di Bangladesh mengatakan Selasa mereka membutuhkan dana USD 13 juta untuk menyediakan layanan kesehatan reproduksi dan merespon kekerasan berbasis gender bagi perempuan Rohingya yang tiba dari Myanmar.
Iori Kato, representatif UNFPA Bangladesh, mengatakan dalam sebuah konferensi pers kebutuhan dana USD 13 juta itu "sangat mendesak" guna memenuhi kebutuhan di tengah "krisis kemanusiaan yang besar".
UNFPA mengatakan dana itu akan digunakan untuk menyediakan layanan bagi perempuan, yang merupakan 67 persen dari pengungsi baru.
"Perempuan tidak berhenti hamil atau melahirkan di tengah krisis. Dalam keluarga PBB, UNFPA memimpin upaya respon kesehatan seksual dan reproduksi serta kekerasan berbasis gender, dan kami mengambil tanggung jawab itu dengan sangat serius."
Dari 128.000 pengungsi baru, sekitar 13 persen merupakan perempuan hamil atau menyusui yang membutuhkan layanan ibu dan anak. Selain itu, kondisi krisis kemanusiaan juga meningkatkan resiko adanya kekerasan berbasis gender dan membuat posisi perempuan sangat rentan.
"Dana USD 13 juta yang kami minta itu akan digunakan agar kami bisa melakukan tanggung jawab kami hingga Agustus 2018. Kami berterima kasih pada pendonor untuk dukungan mereka," kata Kato.
UNFPA sudah mengirim bidan yang bisa memberikan pelayanan kemanusiaan untuk membantu bidan dan personel lain yang sudah ditempatkan di kamp pengungsi Rohingya di Cox's Bazar.
Sejak 25 Agustus lebih dari 370.000 Muslim Rohingya meninggalkan negara bagian Rakhine untuk ke Bangladesh, menurut PBB.
Pengungsi melarikan diri dari kekerasan di Rakhine dimana pasukan keamanan dan massa Buddhis membunuh warga Muslim, menjarah dan membakar rumah-rumah.
Menurut pemerintahan Bangladesh, sekitar 3.000 orang Rohingya telah dibunuh.