Kadir Yildiz dan Nilay Kar
06 November 2017•Update: 06 November 2017
KOCAELI
LSM yang berbasis di Istanbul mendesak organisasi sejenis di Turki untuk bekerja sama membantu anak-anak Rohingya yang kehilangan kedua orang tuanya akibat kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar.
Berbicara di acara The Rakhine State Awaits Help di Kocaeli, Turki Tenggara, Ketua Mavi Marmara Freedom and Solidarity Association Ismail Yilmaz, mengatakan: “Mari kita bangun penampungan untuk anak-anak tersebut dan menerima mereka.”
Setengah dari 700.000 muslim Rohingya yang berhasil keluar dari Bangladesh, 350.000 di antaranya adalah anak-anak, kata dia.
"Sekitar 30.000 di antaranya adalah anak yatim. Hampir separuh dari mereka tidak ada yang urus. Kita harus menjaganya," kata dia.
Keluarga-keluarga Rohingya masih menyebrangi sungai Naf ke Bangladesh untuk melarikan diri dari apa yang disebut PBB sebagai “pembersihan etnis” oleh militer.
Turki telah berada di garda terdepan dalam menyediakan bantuan untuk pengungsi Rohingya dan Presiden Recep Tayyip Erdogan telah mengangkat isu ini di PBB.
Yilmaz membandingan nasib bangsa Palestina dan Rohingya dengan mengatakan “Saudara Rohingya kita kini mengalami masalah sama dengan yang dialami saudara-saudara Palestina kita selama lebih dari 60 tahun. "
Hari ini hanya sekitar 600.000 dari hampir 4 juta orang Rohingya yang tersisa di wilayah mereka sendiri.
Melarikan diri dari kekerasan
Sejak dimulainya tindakan militer terhadap komunitas Rohingya di Rakhine pada 25 Agustus, lebih dari 607.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, menurut PBB.
Menurut Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hasan Mahmood Ali, sekitar 3000 warga Rohingya tewas karena kekerasan milter.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
Dalam sebuah laporan, penyidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
PBB mendokumentasi adanya pemerkosaan massal, pembunuhan - termasuk anak-anak dan remaja- pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan personel keamanan Myanmar.
Dalam sebuah laporan, penyidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dilaporkan oleh Kadir Yildiz; Ditulis oleh Nilay Kar