Maria Elisa Hospita
12 Februari 2018•Update: 13 Februari 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Jim Mattis pada Minggu malam mengakui bahwa beberapa teroris Pasukan Demokrat Suriah (SDF) yang dipimpin PYD/PKK, bergerak ke Afrin, Suriah, di tengah operasi kontraterorisme Turki yang sedang berlangsung di Afrin.
"Gangguan di Afrin saat ini, telah menarik sejumlah Pasukan Demokrat Suriah, yaitu sekitar 50 persennya," ungkap Mattis kepada wartawan, sambil menekankan bahwa persentasenya bisa kurang atau lebih.
Mengenai alasan pergerakan kelompok teror tersebut ke Afrin, Mattis menjelaskan bahwa orang-orang Kurdi menganggap "saudara sebangsanya" di Afrin tengah menderita di bawah serangan, yang merujuk pada Operasi Ranting Zaitun Turki ke barat laut Afrin untuk memberangus elemen-elemen PYD/PKK di sana.
Mattis menegaskan, sebagai satu-satunya sekutu NATO dengan pemberontakan aktif di wilayahnya, Ankara punya masalah keamanan yang sah.
"Mereka [Turki] memiliki masalah keamanan yang sah, dan kami tidak akan mengabaikannya sedikit pun," tegas dia, dengan menekankan bahwa Washington akan terus menjalin kerja sama dengan Turki.
Sebelumnya, Pentagon menyatakan bahwa elemen-elemen SDF telah menggerakkan militannya, namun tidak menyebutkan ke mana tujuan mereka.
Mattis dijadwalkan untuk menemui Menteri Pertahanan Turki Nurettin Canikli di Brussel, pekan ini.
Turki melancarkan Operasi Ranting Zaitun pada 20 Januari untuk membasmi teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin.
Staf Militer Turki menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan seluruh wilayah Turki, juga untuk melindungi rakyat Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.
Operasi ini dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak untuk membela diri di bawah Piagam PBB, dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah.
Selama ini, AS terus mempersenjatai SDF, yang justu dianggap sebagai cabang organisasi teror PKK di Suriah oleh Ankara, karena telah melancarkan kampanye bersenjata ke Turki selama lebih dari 30 tahun, yang menewaskan puluhan ribu jiwa.