Chandni
14 Mei 2018•Update: 15 Mei 2018
KARACHI, Pakistan
Mantan perdana menteri Pakistan Nawaz Sharif diserang berbagai pihak setelah menuduh militer Pakistan masa bodoh terhadap aktivitas militan yang terlibat serangan teroris 2008 di Mumbai, India, yang menewaskan lebih dari 150 orang.
Kontroversi itu dimulai ketika Sharif diwawancarai sebuah koran, yang mengutipnya mengatakan: "Organisasi militan masih aktif [di Pakistan]. Mereka bisa dikatakan sebagai delegasi tidak resmi, bolehkan kita mengizinkan mereka menyebrangi perbatasan dan membunuh 150 orang di Mumbai? Jelaskan kepada saya. Mengapa kami tidak bisa menuntaskan persidangannya?"
Dia merujuk pada persidangan yang ditunda berulang kali dalam beberapa tahun terakhir, karena Paksitan menuduh India tidak menyerahkan barang bukti yang bisa mengakhiri proses hukum. New Delhi, di pihak lain, mengatakan Islamabad gagal melangsungkan proses hukum yang baik dan benar.
Ungkapan Sharif itu disusul oleh permintaan militer kepada Perdana Menteri Shahid Khaqan Abbasi agar segera menggelar pertemuan Dewan Keamanan Nasional pada Senin untuk membahas "pernyataan tak berdasar" itu.
Dua partai oposisi terbesar negara itu - Partai Rakyat Pakistan (PPP) dan Pakistan Tehrik-e-Insaf (PTI) yang dipimpin mantan atlet cricket Imran Khan - mengkritik keras pernyataan Sharif dan mempertanyakan perannya dalam menangani isu itu selama masa jabatannya.
Media Pakistan dan India mencap wawancara Sharif itu sebagai "pelanggaran kepentingan nasional", atau bahkan pengakuan dari Pakistan mengenai keterlibatannya dalam insiden teror Mumbai itu.
Partai Sharif, Liga Muslim Pakistan (PML-N), menyalahkan media yang merilis wawancara itu karena "salah menginterpretasi".
"Ucapan Nawaz Sharif salah diinterpretasikan oleh media India," bunyi pernyataan dari juru bicara PML-N pada Senin.
"Sayangnya beberapa media sosial dan elektronik Pakistan malah mempercayai propaganda media India tanpa menghiraukan fakta pernyataan itu," tambahnya.
Sharif, yang didepak Juli lalu oleh pengadilan tinggi Pakistan, tahun lalu juga menuai kontroversi karena mengatakan militer negaranya tampak lemah di hadapan kelompok-kelompok militan.
Sharif dan beberapa anggota keluarganya saat ini menghadapi tiga tuduhan korupsi, yang menurutnya "dibuat-buat".
Pada November 2008, kelompok militan asal Pakistan Lashkar-e-Taiba meluncurkan sebanyak 12 serangan bom dan tembakan di Mumbai yang berlangsung selama empat hari, membunuh 164 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.