Betul Yurul
11 Oktober 2017•Update: 11 Oktober 2017
Betul Yurul
ANKARA
Utusan khusus PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed, pada Selasa mengatakan negara itu menghadapi bencana kemanusiaan, namun pihak-pihak yang berperang masih memperebutkan kuasa.
“Tidak ada pemenang di perang ini dan yang kalah adalah warga Yaman," kata Ahmed di hadapan Dewan Keamanan PBB.
Dia mengatakan para pemimpin tidak tertarik mencapai kesepakatan karena itu akan berujung pada kehilangan kuasa dan kendali atas Yaman.
“Sementara negara semakin miskin, para pemimpin semakin kaya dan mereka tidak berniat meredam situasi,” kata dia.
Di acara yang sama, Direktur Operasional Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) John Ging mengatakan sekitar 15 juta warga Yaman tidak memiliki akses air bersih atau fasilitas kesehatan.
“Lebih dari 2.100 warga tewas karena kolera. Selain itu, 7 juta orang mengalami kelaparan dan 460.000 anak-anak dalam kondisi malnutrisi,” jelas Ging.
Perang saudara merebak di Yaman pada 2014 ketika pemberontak Houti mengepung ibu kota Sanaa dan beberapa bagian lain negara itu, sehingga pemerintah memindahkan ibu kota ke Aden.
Pada 2015, Arab Saudi dan sejumlah sekutunya meluncurkan serangan udara terhadap kelompok Houthi.
Menurut PBB, lebih dari 10 ribu warga - termasuk warga sipil - menjadi korban jiwa dalam konflik itu.