Michael Hernandez
WASHINGTON
Para pejabat intelijen AS kembali mengingatkan pada Kamis masih adanya campur tangan Rusia dalam pemilihan umum AS yang bertujuan membelah masyarakat Amerika.
"Demokrasi kita taruhannya," kata Direktur Homeland Security Kirstjen Nielsen yang didampingi kepala badan intelijen Amerika lainnya di Gedung Putih.
"Pemilihan umum yang bebas dan adil adalah pijakan demokrasi kita, dan telah jelas pemilu ini menjadi target musuh-musuh kita yang, seperti dikatakan oleh DNI, menabur perselisihan dan merusak cara hidup kita," imbuh Nielsen.
Nielsen merujuk kepada Direktur Badan Intelijen Nasional Dan Coats, yang layaknya Nielsen, berada di Gedung Putih untuk berbicara kepada wartawan tentang pengamanan pemilihan umum sebelum pemungutan suara untuk pemilu tengah masa jabatan digelar pada November.
Dia memperingatkan masih adanya "kampanye yang menyebar luas dari Rusia yang bertujuan untuk melemahkan dan memecah belah Amerika Serikat," namun mengatakan bahwa kampanye-kampanye tersebut sejauh ini didapati tak sekuat ketika agensi intelijen tersebut menemukan Rusia mencampuri pemilihan presiden AS pada 2016 lalu.
"Kami hanya tinggal menekan keyboard untuk menemukan hal-hal yang mencurigakan. Tapi sampai sekarang kami belum menemukannya," ujar Coats.
Dia juga mengemukakan bahwa Presiden Donald Trump telah "mengarahkan" badan-badan intelijen untuk memastikan bahwa perlawanan terhadap usaha untuk mencampuri pemilu menjadi prioritas utama.
Komentar Trump tentang masalah ini selama beberapa pekan belakangan telah menjadi sasaran kritik, terutama pernyataannya setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Trump tampak seperti memihak Putin, saat dia menyangkal mendalangi usaha mencampuri hasil pemilu AS. Trump kemudian mengubah pernyataan ini setelah kembali ke Washington.
Putin, di pertemuan itu, juga mengakui bahwa dia lebih menyukai kandidat dari Partai Republik ini karena Trump pernah berkata ingin menormalisasi hubungan dengan Rusia, meski bersikukuh Kremlin tak ambil bagian dalam usaha untuk ikut campur dalam pemilu.
Coats berkata, Moskow mungkin melanjutkan usahanya untuk mencampuri pemilu di AS, sementara negara-negara lain "juga mungkin mempertimbangkan untuk melakukan aktivitas-aktivitas untuk memengaruhi" pemilu.
"Kami menyadari ada negara-negara lain yang memiliki kemampuan itu," ujar dia. "Kami akan terus memonitor dan memberi peringatan bila ada usaha semacam itu."
Selain Coats dan Nielsen, Direktur FBI Chris Wray, Direktur National Security Agency Paul Nakasone dan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton juga melakukan briefing di hadapan wartawan.
Nakasone berkata AS siap "melakukan operasi" melawan siapa saja yang berusaha mencampuri pemilihan umum tengah tahun jabatan mendatang, di mana sekitar sepertiga kursi Senat diperebutkan, juga semua kursi di Dewan Perwakilan Rakyat AS.
"Pasukan kami terlatih, siap dan sangat cakap," kata Nakasine, yang juga merupakan Kepala Komando Siber AS. Dia menolak menyebutkan detail operasi yang siap dilakukan tersebut.
news_share_descriptionsubscription_contact
