Hani Shaer
31 Mei 2018•Update: 31 Mei 2018
Hani Shaer
KOTA GAZA, Palestina
Tiga bersaudara asal Palestina kini harus duduk di kursi roda setelah ketiganya menerima tembakan timah panas dari pasukan Israel saat melakukan demonstrasi di Jalur Gaza.
Mohamed al-Homs, 27 tahun, sedang mengikuti demo di dekat pagar perbatasan sebelah timur Jalur Gaza pada 30 Maret, ketika dia menyaksikan adiknya Attalah, 20 tahun, ditembak oleh pasukan Israel.
Tergopoh-gopoh, dia menghampiri adiknya dan menggendongnya ke rumah sakit terdekat untuk mencari bantuan kesehatan. Tak lama kemudian, dia kembali ke area demo, di mana tiba-tiba kakinya ditembus peluru yang ditembakkan oleh tentara Israel yang berada di dekat pagar di perbatasan Gaza.
Mendengar kedua adiknya menjadi korban tembakan, Wagdi meninggalkan kedainya dan segera menuju pagar perbatasan untuk mencari mereka. Dia pun, tak ayal, juga ditembak oleh tentara Israel.
"Saya ditembak dengan peluru ledak; sekarang saya harus memakai kursi roda," kata Mohamed, lulusan sekolah olah raga pada 2014, kepada Anadolu Agency.
"Saya tak tahu mengapa mereka [tentara Israel] menembak kami bertiga," ujar dia. "Demonstrasi damai kami tidak bisa dibandingkan dengan kemampuan tentara pendudukan, lalu mengapa kami ditargetkan?"
Tak menyesal
Menurut Wagdi, pasukan tentara Israel sengaja memakai peluru ledak untuk menembaki warga Palestina untuk memastikan pada demonstran mengalami kecacatan.
"Ratusan orang yang terluka sekarang menderita cedera yang parah," tutur dia.
Meskipun kini menjadi difabel, ketiga bersaudara ini tak menyesali pernah ikut terlibat dalam demo yang menentang pendudukan.
"Tanah ini milik kami," kata Wagdi. "Kami berkomitmen tidak melakukan tindakan kriminal saat diterjang peluru Israel."
"Walaupun kami semua ditembak, kami tidak menyesali turut berdemo," tekan dia.
Sejak 30 Maret, lebih dari 115 demonstran Palestina di sebelah timur Jalur Gaza telah menjadi martir -- dan ribuan lainnya terluka -- oleh tembakan sejata pasukan Israel.
Para pendemo meminta dikembalikannya "hak untuk pulang' ke rumah mereka di Palestina yang bersejarah, di mana mereka diusir paksa pada 1948 untuk memberikan jalan bagi pembentukan negara baru Israel.
*Ali Murat Alhas berkontribusi terhadap tulisan ini dari Ankara