Furkan Naci Top
SAMOS, Yunani
Ratusan pengungsi yang menyebrangi Laut Aegea untuk mencapai pulau Samos di Yunani dalam perjalanan mereka mencari suaka menghadapi masa-masa berat dengan mendekatnya musim dingin.
Hingga kini keluarga-keluarga pengungsi beserta anak-anak dan lansia masih berdesak-desakan di perkemahan hutan, tanpa sumber kehangatan, listrik dan minimnya fasilitas kebersihan.
Ahmed Khali, 57 tahun, melarikan diri dari Suriah dengan 5 anaknya. Kepada Anadolu Agency dia mengatakan baru tiba di kota Vathi empat hari lalu.
"Mereka memberikan kami sebuah tenda dan satu selimut. Kami hanya memiliki itu untuk melindungi diri dari dingin," kata dia. "Saya mengkhawatirkan kesehatan putri saya yang berusia satu tahun."
Hal lain yang dikhawatirkan Ahmed adalah fasilitas kesehatan dan kebersihan yang kurang memadai. "Hanya terdapat satu bilik mandi, dan itu pun tanpa air hangat. Kita juga mendapatkan air minum hanya beberapa jam per hari," keluh dia.
Menurut data resmi Yunani, jumlah pengungsi di Samos 2.900, melebihi kapasitas pulau itu yang hanya bisa menampung 700.
Kepadatan menjadi masalah yang berkontribusi pada keadaan buruk pulau itu, kata juru bicara UNHCR Yunani Boris Cheshirkov.
Hampir 5.000 pengungsi tiba di perairan Yunani pada bulan September, menjadikan itu bulan tersibuk sejak penerapan kesepakatan UE-Turki untuk membendung masuknya pengungsi ke Eropa.
Tertekan di kamp pengungsi
"Khususnya di pulau Samos dan Lesvos, sekali lagi kami melihat situasi yang mengkhawatirkan," kata Cheshirkov kepada Anadolu Agency.
Cheshirkov memperkirakan sekitar 300 orang tinggal di luar kamp yang disediakan, termasuk perempuan menggunakan kursi roda, anak-anak tanpa orang tua dan keluarga dengan anak bayi. Kebanyakan dari mereka hidup dalam kondisi yang tidak sesuai untuk musim dingin.
"Ini tidak bisa diterima," tambah dia. Cheshirkov mendorong pemerintah Yunani menyiapkan pemukiman yang sesuai untuk musim dingin.
Mouhammad Ibrahem, pengungsi dari Irak, mencemaskan musim dingin yang akan datang seiring menurunnya suhu. "Bila hujan, tenda kami akan kebanjiran. Mereka hanya menyediakan jas hujan yang sederhana," kata pria 19 tahun itu.
Seorang saksi mata yang melihat kesulitan yang dihadapi pengungsi sehari-hari adalah Bogdan Andrei, relawan dari lembaga Samos Volunteers.
"Anda bisa merasakan ketegangan di kamp. Para pengungsi marah. Mereka datang ke sini hanya untuk kabur dari tekanan yang mereka rasakan di kamp," jelas dia.
Andrei mengatakan pentingnya menyediakan fasilitas bagi anak-anak dan mereka dengan masalah kejiwaan.