Ahmet Gurhan Kartal
29 Maret 2018•Update: 30 Maret 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Mantan agen Rusia Sergei Skripal dan putrinya Yulia Skripal diperkirakan terpapar gas saraf yang membahayakan nyawa mereka tepat di depan pintu rumah mereka, kata penyelidik yang mendalami kasus peracunan itu pada Rabu.
Sebuah pernyataan dari Kepolisian Metropolitan London mengatakan "tim penyelidik yakin keluarga Skripal pertama terpapar zat saraf itu di rumah mereka" menyusul pemeriksaan forensik.
"Spesialis menemukan jumlah besar zat tersebut di pintu depan rumah mereka," lanjut pernyataan itu.
Mantan mata-mata Sergei Skripal, 66 tahun dan putrinya Yulia, 33 tahun, dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan tidak sadarkan diri pada 4 Maret lalu di kota Salisbury, Inggris.
Skripal diberi perlindungan di Inggris setelah pertukaran mata-mata pada 2010 antara AS dan Rusia. Sebelum pertukaran terjadi, ia dikurung di dalam penjara selama 13 tahun karena membocorkan informasi kepada intelijen Inggris.
Penyelidik "akan mendalami pengecekan di rumah selama beberapa minggu ke depan, dan mungkin untuk beberapa bulan," terang penyataan itu. Mereka juga akan "menyapu dan memeriksa kawasan sekitar rumah sebagai bagian dari investigasi itu dan sebagai tindak pencegahan".
"Warga sekitar rumah Skripal akan melihat polisi meneruskan investigasi, namun saya ingin mengatakan kepada mereka bahwa ancaman zat saraf itu rendah bagi mereka," kata Wakil Asisten Komisioner Dean Haydon.
"Sekitar 250 detektif anti-terorisme akan menyelidiki kasus ini, dibantu oleh ahli dan rekan-rekan mereka," lanjutnya.
Penyelidik harus mempelajari lebih dari 5.000 rekaman CCTV dan lebih dari 1.350 barang bukti.
- Pengusiran
Pemerintah Inggris menuduh Rusia adalah dalang di balik serangan "yang menggunakan zat saraf jenis Novichok buatan Rusia" itu.
Inggris mengusir 23 diplomat Rusia menyusul serangan itu.
Selain mereka, 26 negara-negara barat lainnya mengusir sebanyak 140 diplomat Rusia sebagai reaksi protes terhadap serangan gas kmia itu.
Rusia membantah keterlibatan dalam serangan di Salisbury itu dan mengatakan pengusiran masal itu adalah "langkah provokatif dan tidak bersahabat".