Sibel Ugurlu, Fatih Hafiz Mehmet
15 Desember 2017•Update: 18 Desember 2017
Sibel Ugurlu dan Fatih Hafiz Mehmet
ANKARA
Juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengecam Gedung Putih pada Kamis menyusul komentar yang mengatakan Abbas adalah 'penghambat kedamaian'.
Pernyataan itu muncul dari AS setelah Abbas mengkritik langkah AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
"Pernyataan itu sangat salah, karena Presiden Abbas selalu menegaskan dia berkomitmen mencapai perdamaian berdasarkan legitimasi internasional, resolusi Dewan Keamanan dan pengakuan dunia atas negara Palestina sebagai pengamat majelis umum PBB, mengikuti kesepakatan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota," kata Nabil Abu Rudeineh seperti dikutip kantor berita WAFA.
Sebelumnya pada Rabu, seorang pejabat senior AS mengatakan Presiden AS Donald Trump "tetap berkomitmen pada perdamaian. Retorika ini yang menjadi halangan bagi perdamaian selama bertahun-tahun. Tidak mengejutkan, kami sudah mengantisipasi reaksi ini".
Rudeineh menolak pernyataan itu dan mengatakan Abbas selalu mendukung perdamaian dan mengutuk kekerasan dan terorisme.
"Hambatan sebenarnya pada proses perdamaian adalah penjajahan Israel dan aktivitas pembangunan pemukiman, yang dikritik oleh pemerintah AS, termasuk Trump," jelas dia.
Pada pertemuan luar biasa yang diadakan Organisasi Kerja sama Islam (OKI) di Istanbul pada Rabu, Abbas mengatakan negaranya tidak akan menerima peran AS sebagai penengah dalam proses perdamaian Timur Tengah menyusul pengakuan Trump mengenai Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
"Kami akan membawa kasus ini ke Dewan Keamanan PBB agar Trump menarik deklarasi itu," kata Abbas. "Kami juga akan meminta Dewan Keamanan memberikan keanggotaan PBB untuk Palestina."
Rapat OKI itu diselenggarakan di Turki guna merundingkan langkah-langkah dukungan bagi Palestina setelah keputusan AS memindahkan kedutaan mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem, yang mengundang kecaman dunia.