Dandy Koswaraputra
10 Desember 2018•Update: 11 Desember 2018
RIYADH
Anggota Dewan Kerja-sama Teluk (GCC) berusaha menghilangkan hambatan perdagangan ke depan di pasar Teluk untuk memastikan keterpaduan ekonomi sampai 2025 dan segera menyelesaikan prosedur pelaksanaan komando militer bersama di kawasan.
KTT GCC ke-39 yang diselenggarakan di ibukota Saudi Arabia Riyadh berakhir, Sekretaris Jenderal Abdellatif al-Zayani membacakan deklarasi penutupan di mana negara-negara anggota menggarisbawahi kesetiaan mereka kepada organisasi.
Deklarasi itu menyerukan untuk membentuk peta jalan untuk melengkapi integrasi antara negara-negara anggota dan memastikan kesatuan keuangan hingga 2025.
Telah dicatat bahwa GCC akan memerangi radikalisme, setia kepada superioritas hukum dan beroperasi bersama dengan mitra internasional untuk memerangi terorisme, mencatat bahwa negara-negara anggota harus mengejar kebijakan luar negeri umum untuk dibedakan dengan konflik regional dan global.
Deklarasi GCC juga menekankan bahwa akan terus mendukung negara Palestina dan Yaman.
KTT berikutnya akan diadakan di bawah presidensi Uni Emirat Arab (UEA).
KTT satu hari tahun ini menghadirkan Raja Bahrain Hamad Bin Eisa Al Khalifa, Emir Kuwaiti Sabah Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah, Wakil Perdana Menteri Oman untuk Urusan Kabinet Sayyid Fahd bin Mahmoud Al Saidi atas mewakili Sultan Qaboos bin Said, pejabat Dubai Mohammed bin Rashid Al Maktoum mewakili Presiden UEA Khalifa Bin Zayed Al-Nahyan, dan Menteri Luar Negeri Qatar Sultan bin Saad al-Muraikhi mewakili Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani.
Emir Qatar Tamim Bin Hamad al-Thani tidak menghadiri KTT itu meskipun secara resmi diundang oleh Raja Salman bin Abdulaziz dari Saudi.
Pada Juni 2017, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain secara kolektif memutuskan hubungan dengan Doha, menuduhnya mendukung terorisme, dengan memberlakukan embargo udara, darat dan laut kepada Qatar, yang dengan gigih menyangkal tuduhan tersebut.
* Ali Murat Alhas berkontribusi pada berita ini dari Ankara