Muhammad Abdullah Azzam
18 November 2019•Update: 18 November 2019
Mohamed Sabry Emam Muhammed
TEHERAN
Seorang polisi Iran tewas pada Minggu setelah bentrok dengan sekelompok orang bersenjata di Iran barat di tengah protes terhadap keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bensin, lapor kantor berita resmi Iran, IRNA.
Seorang pejabat polisi terluka dalam bentrokan dengan kelompok "perusuh dan kriminal" saat mempertahankan kantor polisinya dari penyerang di kota Kermanshah pada Sabtu, lantas dia meninggal akibat luka yang dideritanya, kata kepala polisi provinsi, Ali Akbar Javidan.
Demonstrasi pecah di Iran sejak Jumat setelah pemerintah memberlakukan kebijakan penjatahan bensin dan menaikkan harga bensin.
Setidaknya satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam aksi protes tersebut.
Otoritas Iran menyebut pendapatan yang akan diperoleh dari kenaikan harga bensin itu akan digunakan untuk membantu 18 juta keluarga yang membutuhkan.
Sementara para pengunjuk rasa berusaha membakar sebuah depot bahan bakar di pusat kota Sirjan, tetapi dihalangi oleh pasukan keamanan, kata Gubernur Mohammad Mahmoudabadi.
Pejabat daerah Iran itu mengatakan pemerintah Iran masih berusaha untuk menyelidiki penyebab kematian pemrotes.
Mahmoudabadi mengatakan ketertiban telah dipulihkan di kota itu setelah intervensi pasukan keamanan. Dia meminta warga Iran lainnya untuk tidak bergabung dengan apa yang dia sebut sebagai protes "tanpa izin".
Televisi pemerintah Iran mengatakan para pengunjuk rasa di Shiraz membakar dua pompa bensin dan dua kendaraan polisi.
Mereka juga memblokir jalan-jalan utama dan merusak gedung-gedung publik di kota dan menghancurkan kamera keamanan, truk pemadam kebakaran, dan kendaraan.
Jaksa Agung Iran Mohammad Jafar Montazeri memperingatkan bahwa mereka yang berada di belakang protes akan menghadapi proses peradilan.
Iran telah terpukul keras oleh penerapan kembali sanksi AS tahun lalu setelah Presiden Donald Trump menarik negaranya dari perjanjian nuklir 2015 dengan Teheran.