Hayati Nupus
15 Juli 2019•Update: 16 Juli 2019
Faruk Zorlu
ANKARA
Prancis, Jerman dan Inggris pada Minggu menyatakan keprihatinan terkait memburuknya keamanan di Teluk Persia dan meningkatnya ketegangan seiring kegiatan nuklir Iran.
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Kantor Presiden Prancis, ketiga negara itu mengatakan mereka khawatir dengan "risiko bahwa Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPoA) kian terurai di bawah tekanan sanksi AS dan mengikuti keputusan Iran untuk tak lagi mengimplementasikan beberapa ketentuan perjanjian.”
Merujuk pernyataan Teheran sebelumnya bahwa mereka akan tetap dalam perjanjian, ketiga negara mendesak Iran untuk membalikkan keputusan batas pengayaan uranium yang ditentukan perjanjian nuklir dan kembali kepatuh secara penuh pada perjanjian.
Selain itu, negara-negara Eropa juga menyatakan keprihatiann mereka terhadap serangan di Teluk Persia dan sekitarnya baru-baru ini, dan dengan memburuknya keamanan di kawasan itu,” kata dia.
“Kami percaya waktunya telah tiba untuk bertindak secara bertanggung jawab dan mencari jalan demi menghentikan eskalasi ketegangan dan melanjutkan dialog,” kata pernyataan itu.
Dia menambahkan: “Perlu bagi semua pemangku kepentingan untuk berhenti dan mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin dari tindakan mereka."
Iran pada Senin mengkonfirmasi bahwa mereka telah melanggar batas pengayaan uranium 3,67 persen yang ditetapkan oleh perjanjian nuklir 2015.
Terkait kesepakatan itu, Iran setuju untuk menghancurkan persediaan uranium medium dan memangkas persediaan uranium rendah sebesar 98 persen.
Ketegangan meningkat antara AS dan Iran sejak Mei 2018, ketika Washington secara sepihak menarik diri dari kesepakatan itu.
Sejak itu AS memulai kampanye diplomatik dan ekonomi untuk menekan Iran agar menegosiasikan kembali perjanjian tersebut, serta kegiatan Iran lainnya yang dianggap Washington sebagai "destabilisasi".
Sebagai bagian dari kampanyenya, AS memberlakukan kembali sanksi terhadap ekspor minyak mentah Iran, yang telah menekan perekonomian Iran.
Pada Juni, ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah dua kapal tanker minyak diserang di Selat Hormuz.
AS menganggap Iran bertanggung jawab atas serangan itu dan menuduh mereka menghancurkan perangkat navigasi di perairan. Iran membantah kedua tuduhan itu.
Beberapa hari kemudian, Teheran menembak pesawat tanpa awak AS karena melanggar wilayah udara Iran.
AS mengklaim pesawat tak berawak tersebut melintasi perairan internasional.