Maria Elisa Hospita
06 Maret 2020•Update: 07 Maret 2020
Elena Teslova
MOSKOW
Presiden Turki dan Rusia bertemu di Moskow pada Kamis, pascaserangan rezim Bashar al-Assad di Idlib, Suriah.
Serangan itu menyebabkan sedikitnya 34 tentara Turki tewas.
Ketika berpidato di Kremlin, Presiden Vladimir Putin berterima kasih kepada rekan sejawatnya, Recep Tayyip Erdogan, karena bersedia berunding dengannya tentang eskalasi serangan di Suriah.
"Terima kasih sudah datang. Selalu ada sesuatu untuk dibicarakan, khususnya situasi terkini di Idlib, Suriah," kata Putin.
"Gugurnya pasukan Turki adalah tragedi. Sayangnya, tidak seorang pun, termasuk militer Suriah, tahu tentang posisi mereka [tentara Turki]," tambah presiden Rusia.
Dia menambahkan bahwa pasukan rezim Bashar al-Assad telah menderita kerugian besar di Idlib, kubu terakhir oposisi di Suriah.
"Agar hal ini tidak terjadi lagi, dan agar hubungan Rusia-Turki tidak rusak, maka hal ini harus dibicarakan baik-baik," kata dia lagi.
Pemimpin Rusia menyebutkan pertemuan itu akan dimulai dengan negosiasi empat mata dan dilanjutkan dengan format yang berskala lebih besar.
Erdogan mengatakan keputusan yang diambil selama pertemuan itu akan meredakan ketegangan di kawasan dan di Turki.
Kedua kepala negara dijadwalkan untuk membahas situasi terkini di Suriah, termasuk pelanggaran gencatan senjata di zona de-eskalasi, Idlib.
Rezim Assad dan sekutunya secara konsisten melanggar kesepakatan gencatan senjata 2018, dengan meluncurkan serangan bertubi-tubi ke wilayah tersebut.
Ankara pun merespons dengan meluncurkan Operasi Perisai Musim Semi ke Idlib untuk melindungi warga sipil.