Elena Teslova
22 Februari 2022•Update: 23 Februari 2022
MOSKOW
Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin mengatakan bahwa dia akan membuat keputusan akhir untuk mengakui wilayah separatis Ukraina sebagai negara merdeka setelah anggota Dewan Keamanan Rusia dengan suara bulat mendukung gagasan tersebut.
Berbicara pada pertemuan di Moskow, Putin mengatakan krisis Ukraina dimulai dengan penggulingan Presiden Viktor Yanukovych tahun 2014, yang menyebabkan konfrontasi antara orang-orang di wilayah Donetsk dan Luhansk dan pihak berwenang yang berkuasa.
Menurut PBB, lebih dari 13.000 orang tewas dalam bentrokan antara separatis pro-Rusia dan pemerintah Kyiv di Donbas, Ukraina timur sejak 2014.
Jerman, Prancis, Rusia, dan Ukraina menyusun Protokol Minsk untuk menyelesaikan krisis, tetapi selama bertahun-tahun para pejabat Ukraina telah menunda implementasinya, klaim Putin.
Presiden Rusia mengatakan bahwa Ukraina telah digunakan "sebagai alat melawan Rusia", yang "mewakili bahaya" bagi keamanan negara.
Tantangan lain adalah kemungkinan masuknya Ukraina ke NATO, lanjut Putin, dengan alasan bahwa deklarasi Bucharest pada 2008 membuktikan bahwa pintu NATO terbuka untuk Ukraina dan Georgia.
Mengatakan deklarasi itu dibuat di bawah tekanan AS, Putin menambahkan, “Di mana jaminan kami bahwa mereka tidak akan mengambil langkah kedua di bawah tekanan? Tidak ada jaminan seperti itu.
"Tidak ada jaminan sama sekali karena Amerika Serikat dengan mudah membatalkan perjanjian apa pun, dokumen apa pun yang mereka tandatangani,” ujar dia.
Putin kemudian meminta pendapat setiap anggota pertemuan dan semua berbicara mendukung pengakuan kemerdekaan Donetsk dan Luhansk.
"Rekan-rekan yang terhormat, saya telah mendengar pendapat Anda. Keputusan akan diambil hari ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas pertemuan ini, untuk konsultasi ini," ungkap dia.
Ketegangan meningkat secara dramatis di Ukraina timur pekan lalu, dengan laporan meningkatnya jumlah pelanggaran gencatan senjata, beberapa insiden penembakan, dan evakuasi warga sipil dari wilayah separatis pro-Rusia di Donetsk dan Luhansk.
AS menuduh Rusia mengumpulkan hampir 150.000 tentara di sepanjang perbatasan Ukraina dalam persiapan untuk invasi yang akan segera terjadi.
Moskow telah berulang kali membantah rencana untuk menyerang Ukraina dan sebaliknya menuduh negara-negara Barat merusak keamanan Rusia melalui ekspansi NATO ke perbatasannya.