28 Oktober 2017•Update: 30 Oktober 2017
Levent Tok dan Halit Suleyman
Istanbul/Gouta Timur
Sebanyak 1.114 anak terancam kematian akibat terbatasnya makanan dan obat-obatan di Ghouta Timur, daerah pinggiran Ibu Kota Suriah, Damaskus di tengah blokade yang dilakukan rezim Assad selama lebih dari 5 tahun, berdasarkan informasi yang dikumpulkan koresponden Anadolu Agency.
Di wilayah seluas 105 kilometer persegi itu juga terdapat 400.000 warga sipil yang berada di bawah pengepungan militer selama lima tahun terakhir dan terkadang mengalami serangan udara.
Air juga menjadi kendala di Ghouta Timur, pasokan air bersih telah hancur oleh serangan yang dilakukan rezim Assad. Pasokan air bersih juga mengalami kehancuran besar setelah serangan senjata kimia, dan meningkatkan kekhawatiran tercemarnya makanan serta air.
Rezim Assad hanya mengizinkan penduduk setempat untuk mengakses air bersih, dan banyak anak-anak mengantri untuk mengisi air ke dalam tempat yang mereka bawa.
Sebuah laporan yang dipublikasikan pada 24 Oktober oleh Jarinngan Hak Asasi Manusia Suriah (SNHR) mengungkapkan “Tidak kurang dari 397 warga sipil, termasuk 206 anak-anak dan 67 wanita, telah meninggal akibat kelaparan dan terbatasnya obat-obatan terutama pada saat awal pengepungan yang dilakukan rezim Assad di Ghouta Timur pada Oktober 2012 dan 22 Oktober 2017.”
Laporan tersebut menunjukkan bahwa “sebagian besar angka kematian melanda kelompok rentan seperti bayi, orang tua, dan orang sakit."
Badan PBB yang bertugas untuk mengkoordinasi bantuan kemanusiaan atau OCHA, dalam sebuah pernyataannya menyatakan 42 unit truk telah mengirim makanan, peralatan kesehatan, nutrisi, barang-barang keperluan pendidikan dan pakaian anak-anak untuk 25.000 orang di kota-kota yang terkepung di Harasta Timur, Misraba dan Modira di Ghouta Timur, daerah pinggiran Damaskus pada 23 September.
“Sudah tiga bulan sejak lembaga kemanusiaan dapat mengakses Ghouta Timur,” bunyi pernyataan tersebut.