Ribuan orang protes tuntut pemerintahan sipil di Sudan
Sudan dalam kekacauan sejak kudeta militer 25 Oktober
Muhammad Amin
21 Februari 2022•Update: 23 Februari 2022
KHARTOUM, Sudan
Ribuan warga Sudan menggelar aksi protes di ibu kota Khartoum pada Minggu untuk menuntut pemerintahan sipil.
Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan anti-militer dan mengibarkan spanduk menyerukan pemerintahan sipil, saat mereka berbaris menuju istana presiden di Khartoum, menurut seorang reporter Anadolu Agency di lapangan.
“Tidak untuk aturan militer,” dan “Negara sipil penuh” termasuk tulisan di antara spanduk yang dibawa oleh pengunjuk rasa.
Unjuk rasa pada Minggu terjadi di tengah serentetan penangkapan tokoh oposisi di Sudan dalam beberapa hari terakhir.
Asosiasi Profesional Sudan, yang mempelopori protes terhadap mantan Presiden Omar al-Bashir, mengatakan lebih dari 200 orang telah ditangkap oleh pasukan keamanan.
Sejak 25 Oktober tahun lalu, Sudan telah mengalami aksi protes sebagai tanggapan atas tindakan luar biasa yang diambil oleh panglima militer Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, terutama pemberlakuan keadaan darurat dan pembubaran pemerintahan transisi Perdana Menteri Abdalla Hamdok, sebuah langkah dikecam oleh kekuatan politik sebagai "kudeta militer".
Setidaknya 81 pengunjuk rasa telah tewas dalam protes terhadap militer sejak saat itu, menurut petugas medis setempat.
Sebelum kudeta militer, Sudan diperintah oleh dewan berdaulat pejabat militer dan sipil yang bertugas mengawasi masa transisi hingga pemilihan umum pada 2023.