Muhammad Abdullah Azzam
28 April 2020•Update: 28 April 2020
Elena Teslova
MOSKOW
Moskow terkejut oleh deklarasi sepihak komandan Khalifa Haftar yang berpusat di Libya timur sebagai penguasa tunggal Libya, kata seorang pejabat di Kementerian Luar Negeri Rusia.
Dalam sebuah pernyataan via video pada Senin, Jenderal Haftar yang memerangi pemerintah Libya yang diakui secara internasional di Tripoli, mengaku dirinya "menerima mandat rakyat" untuk memerintah negara itu.
Haftar menggunakan demonstrasi jalanan sebagai dalih di daerah-daerah di bawah kendalinya.
"Ini mengejutkan. Ada keputusan KTT Berlin, dan yang lebih penting - resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2510, yang harus dilaksanakan pertama-tama oleh rakyat Libya sendiri dengan bantuan masyarakat internasional, sekretaris jenderal PBB," ungkap diplomat yang tak ingin disebutkan namanya pada Selasa kepada kantor berita RIA yang dikelola pemerintah.
Moskow mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk memulai negosiasi kembali.
"Kami mengadvokasi untuk kelanjutan dialog internal di Libya inklusif dalam kerangka proses politik, dan tidak ada solusi militer untuk konflik," kata pejabat itu.
GNA yang diakui oleh internasional digempur oleh pasukan Haftar sejak April tahun lalu, dengan lebih dari 1.000 orang tewas selama insiden kekerasan.
Sejak penggulingan penguasa lama Muammar Khaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan telah muncul di Libya: Haftar di Libya timur, didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan GNA di Tripoli, yang diakui oleh PBB dan internasional.
Milisi yang setia kepada Haftar telah berusaha untuk merebut Tripoli dan daerah-daerah sekitarnya sejak April lalu, dan upaya internasional untuk menegakkan gencatan senjata terbukti tidak berhasil.
Komandan pengkhianat itu kini sepenuhnya menolak untuk mematuhi perjanjian 2015, yang ditandatangani oleh pihak-pihak yang bertikai di bawah naungan PBB di Maroko.
Kesepakatan itu menyebabkan pembentukan GNA untuk mengelola proses transisi di negara yang dilanda perang.