Chandni
09 April 2018•Update: 10 April 2018
Elena Teslova
MOSKOW
Lebih dari 60 kriminal melarikan diri dari Rusia ke Inggris sejak 2002, kata Jaksa Agung Rusia Yury Chayka pada Minggu.
"Sejak 2002, kami berulang kali mengirimkan permintaan ekstradisi ke Inggris untuk 61 orang yang dituduh atau dinyatakan bersalah melakukan tindakan kriminal ekonomi.
"Kerugian yang disebabkan mencapai hingga USD87 miliar. Dan itu baru kerugian secara langsung, padahal dana yang mereka simpan di luar negeri jauh lebih tinggi," kata Chayka, seperti dikutip dari sebuah kantor berita lokal.
Dalam beberapa kesempatan, tambah Chayka, pihak Inggris sudah tahu mengenai aktivitas ilegal warga Rusia namun tetap memberikan mereka suaka. Semua orang-orang itu terlibat dalam aktivitas gelap di Inggris, namun bila ada yang terjadi pada mereka, pihak Ingris dengan cepat menuduh Rusia, kata dia merujuk pada kasus Skripal.
Dia memberikan contoh jutawan Rusia Boris Berezovsky, yang kabur ke Inggris pada 2003 dan diberikan suaka politik setelah menyampaikan kabar palsu mengenai percobaan pembunuhan terhadapnya.
"Otoritas Inggris sudah tahu pernyataan mengenai rencana serangan terhadap Berezovsky itu palsu, namun mereka tetap memberikannya status pengungsi," kata Chayka.
"Kami akan merilis sejumlah dokumen koresponden kami dengan Departemen Dalam Negeri Inggris, juga dengan Theresa May saat dia mengepalai bagian itu.
"Catatan itu menunjukkan pihak Inggris sudah tahu mengenai pernyataan palsu itu namun tetap memberikannya suaka," lanjutnya.
Chayka juga mengatakan oknum-oknum Rusia di Inggris akan kesulitan menjelaskan berbagai aset yang mereka miliki.
Hubungan antara Inggris dan Rusia memanas sejak Maret ketika mantan agen Rusia Sergei Skripal dan putrinya mengalami serangan zat saraf di kota Salisbury, Inggris.
Pihak berwenang Inggris mengatakan Rusia menjadi dalang di balik insiden itu, walau ditampik keras oleh Rusia.
Inggris kemudian mengusir 23 diplomat Rusia, dan 121 diplomat Rusia lainnya juga diusir oleh negara-negara lain sebagai bentuk solidaritas.
NATO dan UE mendukung Inggris dan mengecam serangan itu.