Rıskı Ramadhan
13 Februari 2018•Update: 13 Februari 2018
Nilay Kar Onum, Handan Kazanci, Zuhal Demirci
ISTANBUL
Menteri Negara untuk urusan Luar Negeri Rwanda membantah negaranya telah menandatangani kesepakatan dengan Israel untuk menerima migran asal Afrika yang dideportasi dari Israel.
Sebelumnya sejumlah media mengabarkan bahwa sekitar 10.000 pengungsi asal Afrika di Israel berisiko dideportasi secara paksa ke Rwanda, dan pemerintah Rwanda akan mendapat USD 5.000 untuk setiap pengungsi yang mereka terima.
Dalam sebuah wawancara dengan Anadolu Agency di sela pertemuan Turki-Afrika di Istanbul, Olivier J.P. Nduhungirehe menyebut kabar tersebut sebagai "berita palsu".
"Pertama, kami tidak memiliki kesepakatan apa pun dengan Israel," kata Nduhungirehe.
"Kedua, kami hanya akan menerima migran yang menyatakan keinginan mereka untuk datang ke Rwanda, bukan mereka yang dideportasi di luar keinginan mereka," tegas dia.
Dia mengatakan bahwa Rwanda ingin menjadi tuan rumah bagi para migran Afrika yang terlantar di Libya.
"Rwanda telah menyatakan kesediaannya untuk menjadi tuan rumah bagi migran Afrika yang terlantar di Libya," kata dia.
"Jadi, kami menyatakan akan menerima mereka yang bersedia datang ke Rwanda,” dia menambahkan.
Mahkamah Agung Israel pada Agustus lalu memutuskan bahwa migran Eritrea dan Sudan, yang mencari suaka secara tidak resmi di Israel dapat dideportasi ke negara asalnya atau ke negara ketiga.
Hubungan bilateral
Mengenai pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu di Istanbul pada akhir pekan lalu, dia mengatakan bahwa kedua belah pihak membahas hubungan bilateral dan kerja sama multilateral sebagai bagian dari kerja sama Uni Afrika-Turki.
Dia mengatakan Rwanda dan Turki memiliki "hubungan baik".
Nduhungirehe menambahkan, kedua negara bekerja sama dalam berbagai bidang, termasuk perdagangan, pendidikan dan lainnya.
"Kami datang ke Istanbul untuk meninjau itu [rencana implementasi bersama]. Kami akan mengadakan Pertemuan Tingkat Tinggi tahun depan, pada 2019. Kami berharap dapat mengatasi sejumlah tantangan yang kami hadapi, untuk memperkuat kemitraan yang telah kami miliki," tambah menteri tersebut.
Konferensi Tingkat Menteri Turki-Afrika ke-2 diadakan di Istanbul pada Senin dan dihadiri oleh perwakilan dari 19 negara Afrika. Anadolu Agency juga berperan sebagai penyedia foto resmi dalam acara tersebut.
Salah satu tujuan konferensi tersebut adalah untuk meninjau persiapan Pertemuan Tingkat Tinggi Turki-Afrika Ketiga, yang akan diselenggarakan di Istanbul pada 2019.
Kepada para investor Turki, Nduhungirehe mengatakan, "Datanglah ke Afrika, datanglah ke Rwanda."
"Kami adalah salah satu negara terbuka di dunia. Anda bisa datang tanpa aplikasi visa sebelumnya. Kami memberikan visa pada saat kedatangan untuk seluruh masyarakat dunia tanpa kecuali,” tambah dia.
Menurut Kementerian Luar Negeri Turki, volume perdagangan bilateral dengan Rwanda adalah USD 30,5 juta pada 2015.
Turkish Airlines memiliki penerbangan langsung ke ibu kota Kigali sejak 2012. Ankara juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa dari Rwanda.