Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
21 Januari 2020•Update: 22 Januari 2020
Burak Karacaoglu, Esref Musa
IDLIB, Suriah
Puluhan warga sipil kehilangan nyawa mereka di Idlib, Suriah, dan puluhan ribu lainnya mengungsi sejak 12 Januari karena pasukan rezim dan sekutunya terus melanggar gencatan senjata.
Menurut data yang diperoleh dari Kelompok Koordinasi Respons Suriah, rezim Assad telah melakukan 89 serangan udara sementara jet Rusia menghantam kota itu sebanyak 232 kali selama periode tersebut.
Serangan udara merenggut 50 nyawa warga sipil, termasuk 13 anak-anak, tiga wanita dan seorang pegawai pertahanan sipil.
Sementara itu, warga Suriah juga terpaksa mengungsi dari rumah mereka untuk menghindari serangan.
Sekitar 31.500 orang bermigrasi ke zona yang dibersihkan dari teroris oleh operasi anti-teror Turki di wilayah tersebut.
Serangan udara sejauh ini telah menghantam dua sekolah, dua pusat pertahanan sipil dan tempat berkumpul.
Meskipun Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa gencatan senjata mulai berlaku pada 9 Januari, rezim dan kelompok-kelompok teror yang didukung Iran tetap melakukan serangan darat ke kota yang dikuasai pihak oposisi itu.
Pada 10 Januari, Turki mengumumkan bahwa gencatan senjata baru di Idlib akan dimulai pada 12 Januari.
Pelanggaran perjanjian Sochi dan Astana
Terletak di barat laut Suriah dekat perbatasan Turki, Idlib menjadi benteng bagi pasukan oposisi dan kelompok bersenjata anti-rezim sejak meletusnya perang sipil pada 2011.
Populasi kota meningkat menjadi empat juta jiwa karena migrasi domestik di tengah rentetan serangan besar.
Pada 2017, Turki, Rusia, dan Iran mengadakan pertemuan di kota Astana, Kazakhstan, dan mengumumkan bahwa Idlib dan kota-kota tetangganya akan menjadi zona de-eskalasi.
Namun, rezim Assad dan kelompok-kelompok teror yang didukung Iran terus melancarkan serangan dan melanggar perjanjian.
Berkat dukungan angkatan udara Rusia, rezim mendapatkan kendali atas semua wilayah ini kecuali Kota Idlib.
Agresi berlanjut setelah 17 September 2018, ketika Turki dan Rusia mengadakan pertemuan Sochi sebagai upaya untuk menghentikan serangan yang telah menyebabkan setidaknya 1,3 juta warga sipil bermigrasi ke perbatasan Turki dan sekitar 1.600 warga sipil tewas dalam pemboman.