Sebuah laporan yang dirilis Selasa oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat di Amerika Serikat (AS) menemukan jumlah warga minoritas yang direkrut oleh pusat teknologi Silicon Valley turun dalam beberapa tahun terakhir.
Studi itu dibuat oleh Ascend Foundation, lembaga yang mendukung tenaga kerja Asia-Amerika di AS. Hasil yang mereka temukan berbanding dengan sejumlah perusahaan teknologi yang berjanji menjunjung keragaman di kantor.
Ascend mempelajari data antara tahun 2007 hingga 2015 dari perusahaan-perusahaan teknologi yang berbasis di San Francisco Bay Area. Pemerintah meminta sebuah perusahaan dengan lebih dari 100 karyawan menyediakan informasi mengenai ras dan gender staf mereka, jadi data yang diperoleh itu termasuk informasi dari Apple, Alphabet, Facebook dan Cisco.
Para peneliti menemukan ras menjadi hal yang lebih rumit dibandingkan gender dalam beberapa tahun belakangan, khususnya dalam hal mempromosikan karyawan hingga mencapai tingkat manajer.
Jumlah perempuan berkulit putih di posisi eksekutif naik 17 persen antara tahun 2007 dan 2015, namun jumlah minoritas mengalami penurunan signifikan.
"Meskipun banyak perusahaan merekrut etnis Asia, Hispanik dan karyawan kulit hitam, kenaikkan posisi mereka hinga tingkat senior masih sangat dibatasi," kata Anna Mok, wakil presiden lembaga Ascend, dalam sebuah pernyataan.
"Guna membawa perubahan dalam sistem ini untuk mendapatkan hasil positif, CEO dan petinggi-petinggi perusahaan harus menjadi tongkat perubahan."
Walaupun warga beretnis Asia menjadi ras terbesar kedua setelah warga berkulit putih di bidang teknologi, mereka paling jarang dipromosikan ke jabatan eksekutif. Selain itu, jumlah warga kulit hitam dan Hispanik di bidang teknologi terus menurun sejak 2007.
"Kami sudah melihat kemajuan bagi perempuan berkulit kulit putih, jadi kami tahu perusahaan teknologi bisa membawa perubahan," kata peneliti Ascend Buck Gee, dalam sebuah pernyataan. "Sekarang waktunya membawa perubahaan bagi laki-laki dan perempuan minoritas."