Astudestra Ajengrastrı
04 April 2018•Update: 04 April 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Donald Trump meminta pemimpin Arab Saudi dan Qatar menyelesaikan perselisihan yang memecah-belah negara-negara Teluk, ujar Gedung Putih pada Selasa.
Trump dan Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani membahas Dewan Kerja sama Negara-negara Arab di Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC). Dia berterima kasih kepada Al-Thani "untuk komitmennya membantu mengembalikan persatuan GCC dan menekankan pentingnya menyelesaikan krisis Teluk" juga "komitmen Al-Thani untuk melawan pendanaan terorisme dan ekstremisme" dalam perbincangan bilateral via telepon.
"Presiden dan Emir setuju pentingnya persatuan regional untuk mengatasi ancaman keamanan dan memastikan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut," kata Gedung Putih.
Trump juga "menekankan pentingnya menyelesaikan permasalahan Teluk dan mengembalikan persatuan GCC untuk melawan pengaruh Iran yang merusak dan mengalahkan teroris dan ekstremis" dalam perbincangan telepon dengan Raja Salman pada Senin, terang Gedung Putih melalui pernyataan berbeda.
Dalam pembicaraan tersebut, Trump dan Salman lebih lanjut menyetujui untuk "menghidupkan kembali" usaha-usaha menemukan resolusi politik untuk mengakhiri perang di Yaman, di mana Trump "menyatakan solidaritasnya dengan Arab Saudi setelah serangan rudal balistik oleh pemberontak Houthi yang didukung oleh Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (Iranian Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) yang menargetkan masyarakat sipil di Arab Saudi pada 25 Maret", lanjut Gedung Putih.
"Para pemimpin mendiskusikan berbagai isu regional, termasuk pentingnya mencapai kesepakatan damai antara Israel dan Palestina juga penguatan kerja sama strategis Amerika-Arab Saudi," tulis pernyataan itu.
Musim panas lalu, blok negara-negara Teluk yang dipimpin Saudi -- termasuk Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain -- memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduh Doha menyokong kelompok-kelompok teror di wilayah tersebut.
Keempat negara mengancam akan menjatuhkan sanksi leboh lanjut kepada Qatar jika negara tersebut gagal memenuhi daftar panjang tuntutan mereka, salah satunya menutup kanal televisi Al Jazeera yang berbasis di Doha.
Qatar menolak memenuhi tuntutan, serta terus menyangkal tuduhan yang diarahkan kepada negara itu.