Maria Elisa Hospita
17 Desember 2019•Update: 18 Desember 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dia akan kecewa jika pemimpin Korea Utara Kim Jong-un melanjutkan program nuklirnya.
"Kami akan sangat kecewa, dan jika itu terjadi maka kami akan mengurusnya. Kami akan terus mengikuti perkembangannya," kata Trump di Gedung Putih.
Awal pekan ini, Trump telah mengirim utusan khususnya, Stephen Biegun, untuk menemui rekan-rekan sejawatnya di Korea Selatan dan Jepang untuk melanjutkan koordinasi mereka perihal Korea Utara.
Rabu lalu, Duta Besar Kelly Craft memimpin perundingan Dewan Keamanan PBB di New York setelah serentetan peluncuran rudal yang memunculkan keraguan terhadap proses negosiasi yang dihidupkan kembali oleh Trump-Kim pada 2017.
“Kami memang fleksibel, tetapi kami tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Republik Rakyat Demokratik Korea Utara (DPRK) harus melakukan bagiannya dan harus menghindari provokasi,” tegas Craft.
Sejak menjabat presiden pada 2017, Trump telah bertemu dengan Kim tiga kali untuk membujuknya agar menghentikan program nuklir dan misilnya.
Namun, perundingan terhenti dan Kim memberi Trump batas waktu hingga akhir tahun ini untuk membuat konsesi.
Korea Utara telah meluncurkan 13 rudal balistik sejak Mei.
Analis dan diplomat khawatir bahwa Pyongyang akan kembali melanjutkan uji coba nuklir dan rudal jarak jauh tahun depan.