Muhammad Abdullah Azzam
02 Februari 2021•Update: 02 Februari 2021
Rabia Iclal Turan
ANKARA
Uni Eropa pada Senin mengecam keras kudeta militer di Myanmar yang menyebabkan penahanan tokoh politik senior.
"Saya mengutuk keras kudeta di Myanmar dan menyerukan kepada militer di sana untuk membebaskan semua yang telah ditahan secara tidak sah dalam penggerebekan di seluruh negeri," kata Charles Michel, Presiden Dewan Eropa, pada Senin.
Michel juga mendesak penghormatan atas hasil pemilu yang dilakukan November lalu dan kembali ke proses demokrasi.
Kepala kebijakan luar negeri blok itu, Josep Borrell, juga menyatakan di Twitter bahwa pihaknya mengutuk kudeta di Myanmar, dan menyerukan "pembebasan segera bagi mereka yang ditahan."
“Hasil pemilu dan konstitusi harus dihormati,” tegas dia.
"Rakyat Myanmar menginginkan demokrasi. Uni Eropa mendukung mereka," imbuh Michel.
Militer Myanmar pada Senin mengumumkan pagi bahwa mereka telah merebut kekuasaan dan akan memerintah negara itu setidaknya selama satu tahun sambil mengumumkan keadaan darurat.
Pejabat tinggi pemerintah, termasuk Penasihat Negara Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint dan anggota senior koalisi yang berkuasa ditahan.