Maria Elisa Hospita
25 September 2018•Update: 26 September 2018
Walid Abdullah
TRIPOLI
Jumlah warga Libya yang telantar akibat bentrokan di Tripoli telah bertambah menjadi 25.000 orang, dan setengah dari jumlah itu adalah anak-anak.
Menurut UNICEF, bentrokan yang berlangsung selama berminggu-minggu antara kelompok milisi yang saling bersaing itu telah menyebabkan sebanyak 1.200 keluarga mengungsi hanya dalam 48 jam terakhir saja.
Pada Minggu, bentrokan terbaru meletus di ibu kota antara milisi yang berafiliasi dengan pemerintah persatuan nasional Libya dengan kelompok bersenjata.
Bentrokan pertama kali meletus pada 26 Agustus setelah Brigade Ketujuh (berafiliasi dengan Departemen Pertahanan yang berbasis di Tripoli) menuduh Brigade Revolusi Tripoli menyerang posisinya di selatan ibu kota.
Pada 4 September, gencatan senjata yang diprakarsai PBB menghentikan pertempuran itu untuk sementara waktu, namun perseteruan berlanjut kembali enam hari kemudian, dan sebentar-sebentar meletus sejak saat itu.
Libya masih dirundung gejolak sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menggulingkan pemerintahan dan menyebabkan kematian Muammar Gaddafi yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade.
Sejak itu, divisi politik Libya telah menyebabkan persaingan antara dua poros kekuasaan - satu di Tobruk dan satu lagi di Tripoli - dan sejumlah kelompok milisi bersenjata.