Adham Kako, Muhammed Misto
GHOUTA TIMUR/ANKARA
Masyarakat Ghouta Timur yang menghadapi serangan-serangan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad bertekad untuk tidak meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Rezim Assad selama dua pekan terakhir meluncurkan serangan bertubi-tubi terhadap Ghouta Timur yang tertelak di timur Damaskus dan dikendalikan oleh oposisi.
Rezim masih terus menargetkan Ghouta Timur dari darat dan udara meski Dewan Keamanan PBB telah mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata selama 30 hari dan Rusia telah mengumumkan gencatan senjata selama lima jam setiap harinya.
Assad menginginkan warga untuk meninggalkan daerah tersebut dengan pemberitahuan yang disebarnya melalui udara, sementara Rusia mengangkat isu evakuasi besar-besar dengan alasan melindungi warga sipil.
Masyarakat yang telah direnggut hak kehidupannya kepada Anadolu Agency menegaskan tekad mereka untuk tetap tinggal di Ghouta Timur.
“Jet tempur menembak kami saat kami sedang mengeluarkan korban dari reruntuhan bangunan. Lihat saja kondisi daerah ini, dia menghancurkan semuanya, menembak anak-anak kami,” kata Muhammad Awwad, seorang warga yang tinggal daerah Kafr Batna di Ghouta Timur.
Meski telah kehilangan dua anaknya dalam serangan-serangan rezim baru-baru ini, dia menyatakan akan tetap bertahan apa pun yang terjadi.
“Apa pun yang terjadi, ini adalah rumah dan tanah kami. Tidak ada yang bisa mengeluarkan kami dari sini. Dengan izin Allah, kami akan tinggal di sini sampai mati,” tegas dia.
Seorang warga lainnya, Muhammad Yarub mengatakan, pernyataan rezim bahwa mereka menargetkan teroris di Ghouta Timur sama sekali tidak benar.
“Tidak ada pejuang di sini. Mereka berada di garis depan. Kami akan melawan dengan izin Allah. Kami akan bertahan sampai akhir, berapa lama pun itu. Kami tidak akan keluar dari sini,” kata dia.
Seorang guru di Ghouta Timur, Mehe Ukkasha mengatakan bahwa serangan yang terjadi beberapa waktu terakhir juga mengakibatkan kerusakan besar di areal pendidikan.
“Sebagian besar dari pusat ini tidak dapat digunakan lagi. Banyak siswa yang tewas meski mereka telah berada di tempat penampungan bawah tanah. Murid-murid saya terbunuh dalam serangan rezim," ungkap Ukkasha.
Selain itu, kata Ukkasha, mereka juga kehilangan beberapa guru akibat serangan-serangan yang diluncurkan ke wilayah permukiman penduduk.
Meski begitu, Ukkasha menyatakan akan tetap menjalankan aktivitas pendidikan.
“Kami tidak akan menyerah. Kami akan terus melanjutkan pendidikan,” kata dia.
Tim Ed Dahim, seorang warga yang kehilangan rumahnya akibat serangan rezim mengungkapkan, “Serangan intensif baru-baru ini telah menghancurkan setiap sudut. Anak-anak hancur berantakan. Wanita tewas. Keluarga terpecah.”
"Kami adalah petani, bukan teroris. Kami orang tidak mampu, hanya mencari nafkah,” kata dia.
Dahim juga menyatakan tidak akan meninggalkan daerah tempat tinggalnya.
“Apa pun yang terjadi kami tidak akan meninggalkan Ghouta Timur, kami akan melawan. Kami tidak akan pergi,” ujar dia.
Menurut Pertahanan Sipil (White Helmets) di Ghouta Timur, serangan-serangan rezim telah menewaskan lebih dari 400 jiwa dalam sepekan terakhir.
Rezim telah menargetkan 22 pusat layanan kesehatan, satu masjid dan satu panti asuhan dalam dua pekan terakhir.
Sekitar 400 ribu warga sipil di Ghouta Timur yang dikendalikan oleh oposisi hidup di bawah blokade selama lima tahun terakhir.
Ghouta Timur termasuk dalam zona de-eskalasi yang didukung oleh Turki, Rusia, dan Iran, di mana tindakan agresi dilarang keras. Namun, rezim Assad semakin memperketat blokade Ghouta Timur sejak April 2017.
Sejak beberapa bulan terakhir, rezim juga mengintensifkan serangan terhadap Ghouta Timur.
Ribuan pasien termasuk anak-anak yang sebagian besarnya menderita kanker menunggu untuk segera di evakuasi dari daerah yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan tersebut.
Sejumlah bayi, anak-anak dan pasien meninggal karena tidak mendapatkan perawatan medis dan gizi yang cukup.
news_share_descriptionsubscription_contact
