Cem Genco
26 Juni 2018•Update: 27 Juni 2018
Cem Genco
HATAY, Turki
Warga Suriah yang mengalami kebutaan akibat pengeboman jet tempur di wilayah Ghouta Timur - termasuk anak-anak - tidak dapat melupakan penderitaan mereka.
Muhammad Bessam El Meydani (57), Sair Hubbolla (30) dan bocah berusia dua tahun Mutasimbillah Abidrabbo, terpaksa kehilangan penglihatan mereka dan kini tengah menunggu bantuan perawatan kesehatan dari Turki.
Ketiganya mendadak jadi tunanetra setelah jet tempur menghantam tempat berlindung dan rumah mereka sebelum evakuasi Ghouta Timur diluncurkan pada Maret dan April lalu.
Tinggal bersama kerabatnya di provinsi perbatasan Turki selatan Hatay, Meydani bercerita kepada Anadolu Agency pada Senin, bahwa meski kehilangan penglihatan mereka bersyukur dapat selamat dari perang saudara Suriah.
"Empat anak saya dan saya kelaparan dan menghadapi tahun-tahun yang penuh kesengsaraan. Kami lapar selama berhari-hari. Kami bahkan tidak dapat menemukan sepotong roti. Berat badan anak saya turun dan jatuh sakit karena kekurangan gizi," katanya.
Meydani pun ingat benar perasaan bahagia mereka ketika mengetahui akan ada evakuasi di daerah-daerah yang sudah terkepung kehancuran kala itu.
"Keluarga saya dan saya sangat bahagia. Saya menderita serangan dan kehilangan mata kiri saya dan menderita kehilangan penglihatan sebagian di mata kanan saya selama satu bulan sebelum dievakuasi. Saya tidak tahu bagaimana kami akan diperlakukan. Kami sudah menunggu untuk berterima kasih kepada orang-orang yang membantu kami," kata Meydani.
- Cedera akibat pecahan peluru
Hubbolla, di tempat yang sama, menuturkan bahwa pecahan pecahan peluru telah merusak matanya sehingga dia juga kehilangan penglihatan.
Dia mengatakan bahwa selama Ghouta dikepung, rumah mereka terkena serangan pasukan rezim Assad. Dia pun mengalami luka-luka berat.
"Potongan pecahan peluru yang mengenai mata menyebabkan saya kehilangan penglihatan. Saya datang ke Turki untuk dirawat. Kami berterima kasih kepada Turki atas bantuannya," kata dia.
Abidrabbo Iman, ayah balita Mutasimbillah Abidrabbo, menambahkan kelaparan dan serangan tak berujung telah merusak kehidupan mereka di Suriah.
"Beberapa hari sebelum evakuasi, sebuah serangan menghantam tempat perlindungan kami. Anak saya yang berumur dua tahun terperangkap di bawah tanah dan mulutnya penuh dengan tanah. Penglihatannya rusak dan dia mengalami kekurangan oksigen. Kami hampir tidak bisa mengeluarkan putra saya dari tanah sampai dia akhirnya pingsan. Anak saya berada di unit perawatan intensif selama tujuh hari dan sekarang dia kehilangan penglihatannya," kata dia.
Abidrabbo pun menambahkan, mereka bisa mendapatkan pengobatan dengan datang ke Turki.
"Kami ingin kembali ke negara kami ketika putra saya sudah sehat nanti," tambah Abidrabbo.
Suriah telah terkepung dalam situasi perang sipil yang ganas sejak 2011 ketika rezim Assad menindak keras pemrotes pro-demokrasi dengan keganasan yang tidak terduga. Sejak itu, menurut PBB, ratusan ribu orang tewas dalam konflik tersebut.