Adham Kako
ANKARA
Kepala Pertahanan Sipil (White Helmets) Raid Saleh mengungkapkan kepada Anadolu Agency bahwa pihaknya memandang Rusia sebagai mitra kejahatan rezim Bashar al-Assad, bukan sebagai negara penjamin, karena Rusia selalu mendukung serangan Assad ke zona de-eskalasi Idlib.
Saleh menekankan bahwa warga sipil di Idlib berada dalam kondisi terburuk selama perang saudara.
"Rezim, milisi dukungan Iran dan Rusia melancarkan serangan bertubi-tubi sehingga menghalangi kami mengangkut korban luka-luka," ujar Saleh.
Bantuan kemanusiaan untuk warga sipil kini tak dapat disalurkan akibat serangan-serangan. "Tim Pertahanan Sipil dan rakyat Suriah mengecam keras serangan ini,” tutur dia.
White Helmets menyerukan semua pihak menghentikan serangan-serangan yang menargetkan permukiman sipil, sekolah dan rumah sakit. Karena serangan-serangan itu telah memaksa puluhan ribu sipil meninggalkan rumah mereka.
“Kami mencoba menjangkau semua wilayah yang terkena serangan, namun karena serangan yang intens kami tak selalu dapat melakukan operasi penyelamatan,” ujar Saleh.
Saleh mengatakan timnya yang bertugas di lapangan kerap menjadi target serangan rezim dan pendukungnya. Mereka ingin merebut wilayah itu tanpa mempedulikan nyawa sipil.
“Jet tempur Rusia mendukung serangan terbaru oleh rezim serta menghantam rumah sakit dan gudang gandum.”
“Di satu sisi kami berusaha menyelamatkan nyawa warga sipil, di sisi lain kami mendokumentasikan kejahatan yang dilakukan oleh rezim dan para pendukungnya,” tutur Saleh.
Kepala Pertahanan Sipil Saleh menyerukan kepada salah satu negara penjamin perjanjian Sochi, Turki untuk menekan Rusia menghentikan serangan-serangan terhadap sipil.
Menyusul pertemuan 17 September di Sochi antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin, keduanya sepakat membangun zona demiliterisasi - di mana tindakan agresi dilarang secara tegas - di Idlib.
Di bawah kesepakatan itu, kelompok-kelompok oposisi di Idlib diizinkan untuk tetap menempati wilayah, sementara Rusia dan Turki mulai melakukan patroli gabungan di daerah itu untuk mencegah pertempuran kembali meletus.
Sejalan dengan kesepakatan Sochi, kelompok oposisi menarik persenjataan berat mereka dari daerah tertentu di Idlib sejak 10 Oktober.
Suriah baru saja mulai keluar dari konflik dahsyat yang dimulai pada 2011 ketika rezim Assad menindak keras para demonstran dengan keganasan yang tidak terduga.
Sejak itu, puluhan ribu orang tewas dalam konflik sementara jutaan lainnya terpaksa mengungsi.
news_share_descriptionsubscription_contact
